INFO TEKNO> Kecerdasan buatan (AI) menggeser standar kompetensi tenaga kerja secara fundamental — dan menurut eksekutif senior Snowflake, kemampuan memahami sistem kompleks kini lebih berharga dari sekadar bisa menulis kode.
Penilaian itu disampaikan Regional Vice President & Managing Director Southeast Asia Snowflake, Satchit Joglekar, dalam wawancara eksklusif bersama KOMPAS.com di The St. Regis Jakarta, Kamis (17/4/2026). Snowflake sendiri merupakan platform data berbasis cloud yang membantu perusahaan mengelola, mengintegrasikan, dan menganalisis data untuk kebutuhan analitik dan AI.
System Thinking: Skill yang Tak Bisa Digantikan AI
Satchit menempatkan system thinking sebagai keterampilan paling krusial bagi talenta di era AI. Alasannya bukan soal tren, melainkan soal arah teknologi AI itu sendiri.
Menurutnya, AI ke depan tidak akan hadir sebagai satu aplikasi tunggal. Ia akan berevolusi menjadi jaringan agen yang saling terhubung dan bekerja dalam ekosistem terintegrasi. “AI akan menjadi jaringan agen yang bekerja bersama. Untuk itu, kami membutuhkan orang yang memahami bagaimana sistem ini saling berinteraksi,” kata Satchit.
Di sinilah system thinking menjadi pembeda. Talenta yang mampu memahami bagaimana berbagai sistem bekerja bersama — bukan hanya mengoperasikan satu alat — akan lebih siap menghadapi kompleksitas tersebut.
Yang menarik, Satchit menegaskan bahwa kemampuan ini tidak mengharuskan seseorang menguasai coding secara mendalam. Aktivitas pemrograman kini sudah bisa dibantu oleh AI itu sendiri. Peran manusia bergeser ke level yang lebih strategis: memahami alur sistem, menyusun logika kerja, dan memastikan output AI selaras dengan kebutuhan nyata.
Domain Knowledge: Nilai Tambah yang Justru Menguat
Selain sistem, Satchit menyoroti pentingnya keahlian industri spesifik atau domain knowledge. Ini bukan tentang mengetahui segalanya, melainkan tentang memahami satu bidang secara mendalam — lalu mengombinasikannya dengan kemampuan AI.
Satchit mencontohkan sektor manufaktur, keuangan, dan konstruksi sebagai bidang yang akan semakin bernilai ketika dipadukan dengan AI. “Di masa depan, bukan hanya soal teknologi. Orang yang memahami industri akan lebih unggul ketika mereka menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari,” ujar Satchit.
Logikanya konsisten: AI membutuhkan konteks untuk menghasilkan jawaban yang relevan. Dan konteks itu hanya bisa disuplai oleh manusia yang benar-benar memahami industri tempat ia bekerja.
AI Mengubah Peran, Bukan Menghapus Pekerjaan
Pertanyaan yang kerap mengemuka — apakah AI akan menggantikan tenaga kerja — dijawab Satchit dengan perspektif yang lebih bernuansa.
Ia tidak menafikan perubahan yang sedang terjadi. Namun menurutnya, perubahan itu lebih tepat diartikan sebagai pergeseran peran, bukan eliminasi. Tim data seperti analis dan data engineer tetap relevan, tetapi fokus pekerjaan mereka bergerak ke level yang lebih tinggi.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.






