Lewati ke konten

Infotekno

Berita penting

Bitcoin Sempat Dekati US$85.000, Lalu Turun di Tengah Aksi Jual

5 menit baca
Daftar isi

Selisih itu memunculkan pertanyaan soal waktu dan skala investasi AI Tesla. Manajemen perusahaan mengindikasikan pengeluaran akan naik pada tahun-tahun mendatang.

Meta Platforms (META) memperkirakan belanja modal 2026 sebesar US$135 miliar hingga US$145 miliar untuk memperluas infrastruktur AI.

Angka sebesar itu membuat investor lebih cermat menilai hubungan antara belanja perusahaan teknologi dan potensi imbal hasilnya.

Dalam beberapa pekan terakhir, Bitcoin cenderung bergerak sejalan dengan saham teknologi setiap kali sentimen terhadap aset berisiko bergeser.

Saat investor memangkas eksposur ke saham pertumbuhan, aset digital, termasuk Bitcoin, bisa ikut terjual, terutama bila posisi leverage di pasar derivatif besar.

Yahoo Finance mencatat minyak mentah Brent naik melampaui US$112 per barel pada Kamis. Harga West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$100 per barel.

Kenaikan itu berlangsung saat kekhawatiran meningkat soal ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kemungkinan terganggunya pasokan energi.

Minyak yang lebih mahal berpotensi menaikkan ongkos transportasi, produksi, dan distribusi, sehingga tekanan inflasi bisa bertahan. Hal ini berkaitan dengan ekspektasi kebijakan Federal Reserve atau The Fed.

Jika inflasi tetap tinggi, ruang The Fed untuk melonggarkan suku bunga bisa menyempit. Suku bunga yang bertahan tinggi cenderung memperketat pembiayaan dan membuat aset berisiko, termasuk kripto, kurang menarik.

Meski begitu, keterkaitan minyak, inflasi, dan harga Bitcoin tidak selalu bersifat langsung. Likuiditas, aktivitas perdagangan, dan permintaan investor institusional juga memengaruhi pergerakan BTC.

Investor kini memantau rentang US$80.000–US$81.500 sebagai titik harga krusial Bitcoin.

Arus dana ETF Bitcoin spot AS ikut menjadi sorotan setelah dana masuk dan keluar berfluktuasi. Investor mengamati apakah permintaan lewat ETF mampu menyerap tekanan jual saat pasar saham dan aset digital sama-sama terkoreksi.

Informasi dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan saran investasi, keuangan, hukum, atau medis. Konsultasikan dengan profesional berwenang sebelum mengambil keputusan.

FAQ SCHEMA

Q: Mengapa harga Bitcoin turun pada 22 Oktober 2026?
A: Bitcoin turun lebih dari 3% ke sekitar US$81.600 setelah gagal mempertahankan pemulihan menuju US$85.000. Pelemahan ini bersamaan dengan koreksi saham teknologi AS, kekhawatiran soal belanja AI Tesla dan Meta, serta kenaikan harga minyak yang memperbesar kekhawatiran soal inflasi dan arah suku bunga The Fed.

Q: Berapa nilai likuidasi di pasar kripto saat Bitcoin turun?
A: CoinGlass menghitung nilai likuidasi posisi perdagangan kripto sekitar US$400 juta dalam 24 jam. Likuidasi terjadi saat posisi dengan leverage tak lagi punya jaminan memadai, lalu ditutup otomatis. Pada periode yang sama, kapitalisasi seluruh pasar kripto susut sekitar 1,4%, menurut data CoinMarketCap.

Q: Bagaimana pergerakan Ethereum, Solana, XRP, dan Dogecoin?
A: Ethereum turun hampir 4% ke sekitar US$2.400. Solana diperdagangkan di sekitar US$104 dan XRP di sekitar US$1,34. Dogecoin merosot lebih dari 5% pada masa pelemahan yang sama. Aset-aset utama tersebut melemah bersamaan dengan Bitcoin, sementara kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan ikut menyusut.

Q: Mengapa kenaikan harga minyak berkaitan dengan pasar kripto?
A: Menurut Yahoo Finance, minyak Brent naik melampaui US$112 per barel dan WTI di atas US$100 per barel di tengah ketegangan Timur Tengah. Minyak mahal dapat mempertahankan tekanan inflasi, sehingga ruang The Fed melonggarkan suku bunga bisa menyempit. Hubungan ke Bitcoin tidak selalu langsung.

Sumber: https://infotekno.net/harga-bitcoin-turun-likuidasi-kripto/

Berita terkait

Rekomendasi berita

Berita lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *