Lewati ke konten

Infotekno

Berita penting

Dari Alam ke Teknologi, Jamur Shiitake Disebut Berpotensi Jadi Pengganti Chip Komputer

5 menit baca

Cara Kerja Jamur dalam Sistem Penyimpanan Data

Dari budidaya hingga pengujian listrik

Proses penelitian dimulai dengan budidaya jamur shiitake dan jamur kancing hingga mencapai kondisi optimal. Setelah itu, sampel jamur dikeringkan selama sekitar tujuh hari untuk memastikan stabilitas struktur jaringan.

Jamur yang telah dikeringkan kemudian dihubungkan dengan rangkaian elektronik khusus. Kabel dan probe listrik ditempatkan pada berbagai titik jaringan jamur, mengingat setiap bagian memiliki sifat kelistrikan yang berbeda.

Menurut LaRocco, variasi tegangan dan konektivitas memengaruhi perilaku listrik jamur. Selama dua bulan pengujian, sistem berbasis jamur ini mampu beralih antar kondisi listrik hingga 5.850 sinyal per detik dengan tingkat akurasi sekitar 90 persen.

Meskipun performanya menurun pada frekuensi tertentu, kinerja meningkat saat beberapa sampel jamur dihubungkan membentuk jaringan. Jaringan ini menunjukkan perilaku menyerupai jalur saraf otak manusia.

Mengapa Jamur Shiitake dan Jamur Kancing Dipilih
Mengapa Jamur Shiitake dan Jamur Kancing Dipilih

Hubungan dengan Riset Komputasi Nonkonvensional

Menuju sistem yang meniru otak manusia

Penelitian jamur shiitake ini sejalan dengan riset lain di bidang komputasi nonkonvensional, termasuk pemanfaatan jamur lendir atau physarum. Profesor Andy Adamatzky dari University of the West of England menyebut bahwa tabung protoplasma jamur lendir dapat digunakan sebagai kerangka sirkuit bioelektronika.

Pendekatan ini memungkinkan terciptanya koneksi langsung antara jaringan hidup dan sistem komputer, bahkan berpotensi diaplikasikan pada antarmuka otak-mesin di masa depan.

Dengan kata lain, jamur tidak hanya menjadi material pasif, tetapi dapat berperan aktif dalam sistem komputasi adaptif.

Keunggulan Chip Komputer Berbasis Jamur

Efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan

Salah satu keunggulan utama chip berbasis jamur adalah efisiensi energi. Chip silikon konvensional membutuhkan proses manufaktur kompleks dengan konsumsi energi tinggi dan menghasilkan limbah kimia yang sulit diolah.

Sebaliknya, jamur merupakan material alami yang mudah terurai dan dapat dibudidayakan dengan jejak karbon yang jauh lebih rendah. Hal ini menjadikannya solusi potensial dalam upaya mengurangi limbah elektronik global.

Profesor Qudsia Tahmima dari Ohio State University menyatakan bahwa meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan menjadi pendorong utama pengembangan teknologi ramah lingkungan seperti ini.

Tantangan Pengembangan dan Komersialisasi

Masih dalam tahap awal riset

Meski menjanjikan, teknologi chip berbasis jamur masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah konsistensi performa dan daya tahan jangka panjang jika dibandingkan dengan chip silikon.

Selain itu, proses miniaturisasi menjadi faktor krusial agar komponen berbasis jamur dapat digunakan dalam perangkat elektronik modern. Para peneliti saat ini masih berfokus pada optimalisasi proses budidaya dan peningkatan kepadatan komponen.

· · · · · · ·

Berita terkait

Rekomendasi berita

Berita lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *