Peluncuran Spektakuler yang Tak Sejalan dengan Kesiapan Produk
Aksi Terjun Payung yang Kini Disesali
Google Glass pertama kali diperkenalkan ke publik pada 2012 melalui aksi promosi besar-besaran di ajang Google I/O. Google menyewa penerjun payung yang melompat dari kapal udara sambil mengenakan Google Glass dan menyiarkan video secara langsung. Aksi ini menjadi simbol keberanian dan ambisi Google dalam memasuki dunia wearable technology.
Namun, bertahun-tahun kemudian, Brin justru menjadikan momen tersebut sebagai pelajaran penting. Ia mengingatkan para calon pengusaha agar tidak terlalu fokus pada gimmick pemasaran sebelum produk benar-benar siap.
“Jika Anda punya ide perangkat wearable yang keren, pastikan produk itu matang sebelum melakukan aksi promosi ekstrem seperti terjun payung dari kapal udara,” ujar Brin, dikutip dari IndiaTimes.
Harga Mahal dan Kontroversi Privasi
Pada 2013, Google Glass dijual kepada kelompok penguji awal atau “Explorers” dengan harga USD 1.500, setara sekitar Rp 23 juta. Harga tersebut dinilai terlalu tinggi untuk produk yang masih eksperimental. Selain itu, desain yang kaku, daya tahan baterai yang rendah, serta isu privasi akibat kamera 5MP yang dapat merekam tanpa sepengetahuan orang lain memicu penolakan luas dari masyarakat.
Tekanan publik dan minimnya adopsi membuat Google akhirnya menghentikan penjualan Google Glass untuk konsumen umum pada 2015.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.







Respon (2)