Berita  

Strategi Akuisisi Canva di Tengah SaaSpocalypse: Simtheory dan Ortto Diborong

Canva akuisisi Simtheory dan Ortto untuk mempercepat transformasi AI. Perusahaan senilai US$60 miliar ini incar IPO 2027 di tengah gejolak industri SaaS global.

Canva, perusahaan desain berbasis di Sydney yang bernilai US$60 miliar, mengakuisisi dua perusahaan teknologi asal Australia sekaligus — Simtheory dan Ortto
Canva, perusahaan desain berbasis di Sydney yang bernilai US$60 miliar, mengakuisisi dua perusahaan teknologi asal Australia sekaligus — Simtheory dan Ortto

Canva Akuisisi Simtheory dan Ortto, Transformasi dari Platform Desain ke Sistem Kerja AI Penuh

INFO TEKNO> Canva, perusahaan desain berbasis di Sydney yang bernilai US$60 miliar, mengakuisisi dua perusahaan teknologi asal Australia sekaligus — Simtheory dan Ortto — dalam langkah strategis untuk mempercepat transformasinya menjadi sistem kerja berbasis kecerdasan buatan secara menyeluruh. Nilai transaksi dari kedua akuisisi ini tidak diungkapkan.

Langkah ini terjadi di tengah turbulensi hebat yang tengah mengguncang industri perangkat lunak global, di mana perusahaan-perusahaan SaaS tradisional dihantam gelombang penyesuaian valuasi akibat disrupsi AI, sementara Canva justru bergerak agresif memposisikan diri di sisi yang menang.

Dua Akuisisi, Satu Arah Strategis

Simtheory adalah platform kolaborasi AI dan manajemen agen yang memungkinkan tim membangun asisten AI, berkolaborasi lintas tugas dan aplikasi, serta menerapkan sistem berbasis agen secara terintegrasi. Ortto, di sisi lain, menggabungkan platform data pelanggan dengan otomatisasi pemasaran melalui berbagai kanal — email, SMS, notifikasi push, hingga pesan dalam aplikasi.

Keduanya didirikan oleh dua bersaudara: Chris Sharkey, yang sebelumnya ikut mendirikan platform pemesanan online Stayz, dan Mike Sharkey.

“Kami melihat ini sebagai kesempatan luar biasa untuk menghadirkan perangkat kelas enterprise kepada lebih banyak pengguna melalui perusahaan yang memiliki nilai-nilai yang sama,” ujar Mike Sharkey.

Salah satu pendiri Canva, Cliff Obrecht, menjelaskan urgensi di balik keputusan akuisisi ini. Membangun kapabilitas serupa secara organik memang memungkinkan, tapi bukan pilihan terbaik dalam kondisi saat ini.

“Kami bisa saja membangun sesuatu yang serupa secara bertahap, tetapi menghadirkan kemampuan ini ke tangan pelanggan kami lebih cepat benar-benar penting,” kata Obrecht, yang menjabat sebagai kepala operasional Canva.

Dari Desain Grafis ke Suite Produktivitas Penuh

Dua akuisisi terbaru ini memperpanjang daftar pembelian strategis Canva yang sudah mencakup Leonardo.AI, MagicBrief, Affinity, Cavalry, Doohly, dan MangoAI dalam beberapa tahun terakhir. Rangkaian akuisisi itu, dikombinasikan dengan pengembangan produk internal, telah mengubah Canva dari alat desain grafis menjadi ekosistem produktivitas yang semakin komprehensif.

Baca Juga  YouTube Soroti Dampak Aturan Pembatasan Usia Internet, Usulkan Pendekatan Berbasis Pengawasan

Canva kini mengklaim posisi sejajar dengan Microsoft dan Google sebagai salah satu dari hanya tiga suite perangkat lunak produktivitas lengkap yang sesungguhnya di pasar global.

Angkanya mendukung klaim tersebut. Canva digunakan oleh lebih dari 95 persen perusahaan Fortune 500, dengan kategori presentasi menjadi segmen yang tumbuh paling cepat — lebih dari 4 miliar presentasi telah dibuat di platform ini hingga saat ini.

“Saat ini kami digunakan oleh lebih dari 95 persen perusahaan Fortune 500, dan kasus penggunaan kami yang paling cepat berkembang semuanya berada di bidang produktivitas tempat kerja,” kata Obrecht.

Konteks: Industri Perangkat Lunak Dihantam ‘SaaSpocalypse’

Akuisisi ini terjadi tepat saat analis menyebut sektor perangkat lunak global sedang menghadapi apa yang mereka namakan SaaSpocalypse — tekanan valuasi brutal akibat pertanyaan mendasar apakah AI akan menggerus model pendapatan berulang yang selama ini menjadi fondasi industri SaaS.

Baca Juga  Canva AI 2.0 Hadir dengan 5 Fitur Baru, dari Memori Persisten ke Spreadsheet Otomatis

Dampaknya nyata dan terukur. Atlassian baru-baru ini memangkas 10 persen karyawannya, dengan kapitalisasi pasar yang anjlok ke US$26 miliar dan harga saham turun 65 persen dalam 12 bulan terakhir. Figma, pesaing langsung Canva, mencatatkan penurunan saham sekitar 80 persen sejak terdaftar di bursa Juli lalu. Adobe ikut terseret setelah Google merilis Stitch — alat desain AI yang mampu membangun situs web dan aplikasi hanya dari deskripsi bahasa sederhana.

Di tengah tekanan itu, Canva mengakhiri tahun lalu dengan Annual Recurring Revenue sebesar US$4 miliar dan lebih dari 265 juta pengguna aktif bulanan. Posisi keuangan yang solid ini menjadi fondasi bagi agresivitas akuisisi yang tengah dijalankan.

Posisi Canva soal PHK dan Peran AI

Berbeda dari Atlassian dan sejumlah perusahaan teknologi besar lain yang menghadapi kritik keras atas pengurangan tenaga kerja berbasis AI, Canva sejauh ini tidak melakukan PHK serupa. Obrecht menegaskan bahwa pendekatan perusahaan terhadap AI berbeda secara fundamental.

“Kami melihat AI sebagai peluang untuk berbuat lebih banyak, bukan sebagai upaya pengurangan biaya,” katanya. “Volume konten yang perlu dibuat oleh komunitas kami tumbuh sangat cepat. AI membantu memenuhi permintaan itu, tetapi tidak menggantikan kebutuhan akan kreativitas dan penilaian manusia.”

Menuju IPO dan Momen Paling Signifikan

Seluruh gerak akuisisi ini terjadi satu pekan sebelum Canva Create, acara tahunan megah perusahaan di mana lebih dari 5.000 orang dijadwalkan berkumpul di SoFi Stadium, Los Angeles, pada 16 April. CEO Melanie Perkins menyebut acara ini kepada para investor sebagai “momen paling signifikan dalam sejarah Canva.”

Baca Juga  Google Ungkap Serangan 100.000 Prompt ke Gemini, Dugaan Upaya Kloning AI Terbongkar

Di cakrawala yang lebih jauh, IPO Canva semakin dekat. Spekulasi mengarah pada 2027 sebagai waktu paling realistis, kemungkinan besar di NASDAQ. Perusahaan telah menunjuk Kelly Steckelberg sebagai Chief Financial Officer — eksekutif yang sebelumnya berhasil memandu Zoom melalui IPO spektakuler — sebagai sinyal persiapan serius menuju debut publik.

“Hal itu sudah di depan mata, tetapi kami belum memiliki berita apa pun untuk disampaikan mengenai hal ini,” kata Obrecht.

Dengan sekitar 5.500 karyawan yang berpotensi menjadi jutawan seketika saat IPO terjadi, taruhan Canva pada transformasi AI-nya kini menanggung beban yang jauh lebih besar dari sekadar strategi bisnis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *