Pemilihan kedua jenis jamur ini bukan tanpa alasan. Selain mudah dibudidayakan, jamur juga memiliki ketahanan biologis yang baik terhadap berbagai kondisi lingkungan, termasuk paparan radiasi ultraviolet.
Cara Kerja Jamur dalam Sistem Penyimpanan Data
Dari budidaya hingga pengujian listrik
Proses penelitian dimulai dengan budidaya jamur shiitake dan jamur kancing hingga mencapai kondisi optimal. Setelah itu, sampel jamur dikeringkan selama sekitar tujuh hari untuk memastikan stabilitas struktur jaringan.
Jamur yang telah dikeringkan kemudian dihubungkan dengan rangkaian elektronik khusus. Kabel dan probe listrik ditempatkan pada berbagai titik jaringan jamur, mengingat setiap bagian memiliki sifat kelistrikan yang berbeda.
Menurut LaRocco, variasi tegangan dan konektivitas memengaruhi perilaku listrik jamur. Selama dua bulan pengujian, sistem berbasis jamur ini mampu beralih antar kondisi listrik hingga 5.850 sinyal per detik dengan tingkat akurasi sekitar 90 persen.
Meskipun performanya menurun pada frekuensi tertentu, kinerja meningkat saat beberapa sampel jamur dihubungkan membentuk jaringan. Jaringan ini menunjukkan perilaku menyerupai jalur saraf otak manusia.
Hubungan dengan Riset Komputasi Nonkonvensional
Menuju sistem yang meniru otak manusia
Penelitian jamur shiitake ini sejalan dengan riset lain di bidang komputasi nonkonvensional, termasuk pemanfaatan jamur lendir atau physarum. Profesor Andy Adamatzky dari University of the West of England menyebut bahwa tabung protoplasma jamur lendir dapat digunakan sebagai kerangka sirkuit bioelektronika.
Pendekatan ini memungkinkan terciptanya koneksi langsung antara jaringan hidup dan sistem komputer, bahkan berpotensi diaplikasikan pada antarmuka otak-mesin di masa depan.








Respon (3)