Berita  

Warren Buffett Sebut AI Bisa Lebih Berbahaya dari Nuklir, “Jin Sudah Keluar dari Botolnya”

Warren Buffett memperingatkan bahaya AI yang dinilai bisa melampaui risiko nuklir. Investor legendaris itu menyebut perkembangan Artificial Intelligence seperti “jin keluar dari botolnya” dan sulit dikendalikan.

Warren Buffett Peringatkan Bahaya AI yang Dinilai Setara bahkan Melampaui Nuklir
Warren Buffett Peringatkan Bahaya AI yang Dinilai Setara bahkan Melampaui Nuklir

Namun, peringatan Buffett berpotensi memicu diskusi baru tentang regulasi dan tata kelola AI. Investor kini tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan, tetapi juga risiko jangka panjang yang mungkin timbul.

Pada rapat tahunan pemegang saham Berkshire Hathaway Mei 2024, Buffett juga menegaskan bahwa AI memiliki “potensi besar untuk kebaikan dan potensi besar untuk kerugian.” Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan seimbang antara optimisme dan kewaspadaan.

Transisi Kepemimpinan di Berkshire Hathaway

Dalam surat kepada pemegang saham November 2025, Buffett mengumumkan bahwa ia tidak lagi berbicara pada pertemuan tahunan perusahaan. Posisi CEO telah diambil alih oleh Greg Abel sejak 1 Januari.

Ke depan, Abel diperkirakan akan menulis surat tahunan kepada pemegang saham serta menjawab pertanyaan dalam pertemuan tahunan perusahaan.

Baca Juga  Gmail Masuki Era Gemini: Fitur AI Baru Google Ubah Cara Kita Mengelola Email

Meski demikian, pandangan Buffett tentang AI tetap menjadi referensi penting dalam diskursus global mengenai teknologi dan risiko sistemik.

Analisis Risiko AI dalam Perspektif Geopolitik Global

Peringatan Warren Buffett mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan ekonom, ilmuwan, dan pembuat kebijakan. AI kini digunakan dalam sistem militer, pengawasan, dan keamanan siber, yang semuanya memiliki implikasi geopolitik signifikan.

Tidak seperti senjata nuklir yang relatif terkonsentrasi pada negara tertentu, AI dapat dikembangkan oleh perusahaan swasta, startup, bahkan individu dengan akses komputasi memadai.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: siapa yang bertanggung jawab mengatur AI? Apakah regulasi nasional cukup, atau dibutuhkan kesepakatan internasional seperti perjanjian non-proliferasi nuklir?

Baca Juga  Dominasi AI Global Bergeser, Google Kian Dekati Posisi ChatGPT

Kesimpulan

AI bisa sangat berbahaya dari nuklir menurut Warren Buffett bukan sekadar pernyataan provokatif, melainkan refleksi atas kekhawatiran mendalam terhadap teknologi yang berkembang lebih cepat dari regulasinya. Dengan membandingkan AI dengan pengembangan bom atom pada Perang Dunia II, Buffett menyoroti risiko global yang sulit dikendalikan.

Meskipun AI membawa potensi besar untuk kemajuan ekonomi dan sosial, kurangnya kepastian arah perkembangan serta risiko penyalahgunaan menjadi perhatian serius. Dalam konteks ini, peringatan Buffett menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi harus diiringi tanggung jawab kolektif dan pemikiran yang lebih matang agar “jin” yang telah keluar dari botol tidak berubah menjadi ancaman bagi umat manusia.

Baca Juga  Lonjakan Kebutuhan AI Tekan Rantai Pasokan Chip Apple

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *