Lewati ke konten

Infotekno

Berita penting

Perang Dingin AI: China Kembangkan Drone Swarm Otonom Terinspirasi Predator Alam

2 menit baca

Perang Dingin AI: China Kembangkan Drone Swarm Otonom Terinspirasi Predator Alam

Info Tekno> Drone swarm berbasis AI China kini menjadi simbol terbaru dari eskalasi persaingan teknologi militer global. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perlombaan kecerdasan buatan, para peneliti di universitas-universitas China yang berafiliasi dengan militer dilaporkan berhasil mengembangkan simulasi pertempuran drone secara real time dengan meniru perilaku hewan pemangsa dan mangsa di alam liar. Pendekatan ini dinilai mampu mengubah cara perang modern dilakukan, sekaligus memunculkan kekhawatiran baru tentang peran mesin dalam keputusan hidup dan mati di medan tempur.

Riset tersebut menunjukkan bagaimana algoritma kecerdasan buatan dapat melatih drone untuk berpikir dan bertindak layaknya makhluk hidup, bukan sekadar mengikuti perintah statis. Dalam konteks ini, AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi perlahan mengambil alih peran strategis yang sebelumnya sepenuhnya berada di tangan manusia.

Inspirasi Alam dalam Simulasi Perang Drone

Meniru Elang dan Merpati

Penelitian yang dilaporkan oleh The Wall Street Journal pada Januari 2026 mengungkap bahwa para insinyur China mengembangkan dua jenis drone dalam simulasi pertempuran. Drone “elang” diprogram untuk meniru cara burung pemangsa memilih target paling lemah di antara kawanan mangsanya. Sebaliknya, drone “merpati” dirancang sebagai unit penyerang atau sasaran yang berperilaku seperti burung yang cenderung bergerak berkelompok tanpa koordinasi agresif.

Dalam simulasi lima lawan lima, hasilnya mencolok. Drone elang mampu menghancurkan seluruh drone merpati hanya dalam waktu 5,3 detik. Kecepatan dan efektivitas ini memperlihatkan potensi besar AI dalam mengelola pertempuran berbasis swarm, di mana keputusan diambil dalam hitungan milidetik tanpa campur tangan manusia langsung.

Dari Simulasi ke Paten Militer

Keberhasilan riset tersebut tidak berhenti di laboratorium. Pada April 2024, para peneliti memperoleh paten resmi atas teknologi ini. Paten tersebut menjadi bagian dari ratusan paten lain yang dalam beberapa tahun terakhir diberikan kepada universitas dan perusahaan pertahanan China yang memiliki afiliasi erat dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Lonjakan paten ini mencerminkan keseriusan Beijing dalam mengembangkan AI militer, sekaligus menandai babak baru dalam apa yang oleh banyak analis disebut sebagai “perang dingin kecerdasan buatan” antara China dan Amerika Serikat.

Perang Dingin AI dan Ambisi Militer China

Fokus pada Sistem Otonom dan Drone Swarm

Dokumen paten, tender pengadaan pemerintah, serta makalah riset yang dianalisis berbagai lembaga menunjukkan bahwa PLA sangat

· · · ·

Berita terkait

Rekomendasi berita

Berita lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *