WhatsApp Perketat Perlindungan Akun, Strategi Baru Hadapi Ancaman Spyware Global

Pengaturan ketat akun WhatsApp resmi dirilis sebagai fitur keamanan tingkat lanjut untuk melawan spyware dan serangan siber canggih, terutama bagi pengguna berisiko tinggi.

Pengaturan ketat akun WhatsApp resmi diperkenalkan sebagai langkah strategis terbaru perusahaan dalam memperkuat keamanan digital
Pengaturan ketat akun WhatsApp resmi diperkenalkan sebagai langkah strategis terbaru perusahaan dalam memperkuat keamanan digital

Pendekatan ini dinilai sejalan dengan strategi serupa yang telah diterapkan oleh perusahaan teknologi besar lainnya, seperti Lockdown Mode milik Apple dan Advanced Protection Program dari Google. Ketiganya mengedepankan prinsip pengurangan fungsi tertentu demi meningkatkan keamanan secara keseluruhan.

Daftar Perlindungan yang Diaktifkan Secara Otomatis

Saat fitur ini diaktifkan, sejumlah perlindungan tambahan akan langsung diterapkan, antara lain:

  • Pemblokiran lampiran dan media dari pengirim yang tidak ada dalam daftar kontak.
  • Pembungkaman otomatis panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
  • Penonaktifan pratinjau tautan untuk mencegah eksploitasi melalui malicious link.
  • Pembatasan pihak yang dapat menambahkan pengguna ke dalam grup.
  • Pembatasan akses nonkontak terhadap foto profil, status online, serta informasi “Tentang/About”.
Baca Juga  Jangan Pasang Aplikasi VPN Android Berbahaya Ini! Ancaman Malware Mengintai

WhatsApp menegaskan bahwa fitur ini tidak dimaksudkan untuk digunakan oleh semua pengguna secara permanen. Mode ini disarankan hanya diaktifkan ketika seseorang merasa berada dalam risiko tinggi menjadi target kampanye siber tingkat lanjut.

“Kebanyakan orang tidak menjadi sasaran serangan semacam itu,” ungkap WhatsApp, menekankan bahwa fitur ini bersifat protektif dan kontekstual.

Latar Belakang Panjang WhatsApp Melawan Spyware

Peluncuran pengaturan ketat akun tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang WhatsApp dalam menghadapi ancaman spyware. Salah satu kasus paling menonjol terjadi pada tahun 2019, ketika sekitar 1.400 pengguna WhatsApp di berbagai negara menjadi target spyware Pegasus buatan NSO Group.

Spyware tersebut mampu menginfeksi perangkat hanya melalui panggilan telepon yang tidak perlu dijawab oleh korban. Serangan ini membuka mata industri teknologi global mengenai betapa canggih dan berbahayanya spyware modern.

Baca Juga  UpScrolled Jadi Fenomena Baru Media Sosial, Tembus 1 Juta Pengguna Tanpa Algoritma

Sebagai respons, Meta—perusahaan induk WhatsApp—mengambil langkah hukum dengan menggugat NSO Group. Upaya ini membuahkan hasil signifikan, termasuk kemenangan dalam sejumlah proses hukum dan putusan ganti rugi senilai US$167,25 juta.

Upaya Berkelanjutan Memutus Kampanye Spyware

Dalam beberapa tahun setelah kasus Pegasus, WhatsApp juga mengumumkan keberhasilannya mematikan sejumlah kampanye spyware yang menargetkan jurnalis, aktivis, dan anggota masyarakat sipil di berbagai negara. Langkah ini memperkuat posisi WhatsApp sebagai salah satu platform komunikasi yang paling vokal dalam melawan praktik pengawasan ilegal.

Di sisi lain, Meta juga menghadapi tuduhan terpisah yang menyebut perusahaan dapat mengakses pesan pribadi pengguna. Tuduhan ini dibantah keras oleh Kepala Komunikasi Meta, Andy Stone.

Baca Juga  Prediksi Resmi: Tanggal Rilis iOS 26.2 Mengagetkan Pengguna dengan Fitur Rahasia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *