Rudal hipersonik melesat lebih dari lima kali kecepatan suara dan mampu bermanuver saat terbang. Karena itu, rudal jenis ini jauh lebih sulit dilacak maupun dicegat.
Beberapa hari setelah Korut mengumumkan uji coba rudal hipersonik jarak menengah berbasis AI, Seoul menguji senjatanya sendiri. Senjata itu berupa wahana luncur hipersonik yang disebut sebagai “aset strategis kunci yang mampu mengubah jalannya pertempuran.”
Pekan ini, Korut meragukan uji coba Seoul. Pyongyang menyatakan uji coba itu mungkin “gagal mencapai penerbangan hipersonik.”
Korea Selatan membantah klaim tersebut sehari kemudian.
Rangkaian uji coba senjata terbaru ini terjadi di tengah spekulasi pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Kim Jong Un. Para pemimpin dunia bersiap menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Tiongkok pada November mendatang.
Setelah beberapa upaya pendekatan tidak mendapat tanggapan dari Pyongyang, Trump kembali menyatakan minggu ini bahwa ia “mungkin” akan bertemu Kim dalam kunjungannya ke Asia bulan depan.
Yang Moo-jin, mantan rektor University of North Korean Studies di Seoul, menilai situasi ini kepada AFP.
Menjelang kemungkinan pertemuan puncak Korut dan AS, Pyongyang tampaknya “berupaya mengecilkan arti program rudal hipersonik Korea Selatan, dengan tujuan menunjukkan bahwa mereka lebih unggul daripada Seoul—sekutu Washington—dalam perlombaan senjata,” ujar Yang.
Namun, menurut Yang, Korut mungkin memerlukan lebih banyak waktu untuk menyempurnakan sistem torpedonya, khususnya untuk mengurangi kebisingan di bawah air.
“Saat melaju dengan kecepatan tinggi di bawah air, torpedo akan menghasilkan kebisingan yang cukup besar, sehingga lebih mudah dideteksi,” jelas Yang, dilansir CNA.
“Mengurangi kebisingan tersebut merupakan tantangan teknis yang besar dan memerlukan teknologi canggih—dan tampaknya Korea Utara belum mencapai tingkat tersebut.”

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.
Sumber: https://infotekno.net/korea-utara-uji-torpedo-zam-2-berpemandu-ai-kebisingan/

