Bapak AI Bicara Lagi: Kali Ini Lebih Keras
INFO TEKNO> Geoffrey Hinton tidak berhenti berbicara. Peraih Nobel sekaligus tokoh yang paling bertanggung jawab atas fondasi kecerdasan buatan modern itu kembali mengeluarkan peringatan yang sulit diabaikan, dikutip dari Eurasia Review, Kamis (23/4/2026).
Bagi Hinton, AI yang berkembang tanpa regulasi memadai bukan hanya masalah teknis. Ini adalah petaka yang sudah bisa diprediksi arahnya — dan masih bisa dicegah jika dunia bergerak cukup cepat.
“Jika Anda pergi dengan mobil tanpa rem, Anda akan mengalami masalah besar saat menuruni bukit. Terlebih lagi saat tidak ada setir,” kata Hinton.
Analogi itu sederhana, tapi kedalaman maknanya tidak. Hinton tidak sedang berbicara tentang skenario fiksi ilmiah. Ia berbicara tentang sistem AI yang sudah berjalan hari ini, di sektor ekonomi, informasi, dan kehidupan sehari-hari miliaran orang, tanpa kerangka pengaman yang proporsional.
Pasar US$4,8 Triliun yang Hanya Dinikmati Segelintir Pihak
Proyeksi Pertumbuhan yang Timpang
Laporan Technology and Innovation 2025 yang diterbitkan UNCTAD — badan Perdagangan dan Pengembangan PBB — memproyeksikan pasar AI akan melonjak dari US$189 miliar pada 2023 menjadi US$4,8 triliun di 2033. Angka itu setara dengan PDB beberapa negara besar digabung menjadi satu.
Namun ada masalah fundamental di balik angka yang mengesankan itu. Pelaksana Sekjen UNCTAD, Pedro Manuel Moreno, menegaskan dalam sidang Komisi Pengembangan Sains dan Teknologi (CSTD) pekan ini bahwa kapasitas untuk membangun dan membentuk teknologi AI hanya bergantung pada segelintir perusahaan dan negara.
Artinya, kue senilai US$4,8 triliun itu tidak akan dibagi rata.
Negara Berkembang Tertinggal Hampir Dua Kali Lipat
Sekjen Serikat Telekomunikasi Internasional PBB (ITU), Doreen Bogdan-Martin, memaparkan data yang lebih konkret soal jurang digital ini. Adopsi AI-generatif di negara-negara maju atau Global North berlangsung hampir dua kali lebih cepat dibandingkan di negara-negara berkembang atau Global South.
“Hal ini makin memperlebar ketimpangan antara negara-negara yang membentuk AI dan yang hanya mengonsumsinya,” kata Bogdan-Martin.
Dikotomi antara pembentuk dan konsumen AI ini bukan sekadar soal akses teknologi. Ini soal siapa yang menentukan nilai-nilai yang tertanam dalam sistem AI, bias yang direproduksi, dan kepentingan siapa yang diprioritaskan ketika algoritma membuat keputusan.
AI Sebagai Senjata Perang Narasi
Demokrasi di Bawah Tekanan Algoritma
Maria Ressa, jurnalis Filipina peraih Nobel Perdamaian, mengangkat dimensi paling berbahaya dari proliferasi AI yang tidak terkontrol: kehancuran fondasi demokrasi dari dalam.
Ressa memperingatkan bahwa perangkat AI yang makin canggih mempercepat pelemahan sistem demokrasi melalui apa yang ia sebut sebagai perang narasi. Dalam skema ini, kebohongan bisa diproduksi dan diperkuat dalam skala yang sebelumnya tidak terbayangkan.
Dampaknya tidak berhenti di level informasi. Pelemahan lembaga-lembaga pilar demokrasi — media independen dan sistem peradilan — menjadi konsekuensi lanjutan. Ketika akuntabilitas terkikis, korupsi strategis mengisi kekosongan yang ditinggalkan.
Bias, Opasitas Algoritma, dan Monopoli Data
Konferensi AI untuk Pembangunan Sosial yang berjalan paralel dengan sidang CSTD menggarisbawahi tiga risiko utama dari tata kelola AI yang lemah: bias sistemik dalam keputusan algoritmik, ketidaktransparanan cara kerja model AI, dan konsentrasi data dalam jumlah masif di tangan segelintir korporasi besar.
Ketiga risiko itu saling memperkuat. Algoritma yang tidak transparan sulit diaudit untuk bias. Data yang terkonsentrasi memberi kekuatan luar biasa kepada entitas yang menguasainya. Dan bias yang tidak terdeteksi terus direproduksi dalam skala global.
PBB Bergerak: Dialog Global Juli di Jenewa
193 Negara dalam Satu Meja
Temuan-temuan dari panel ilmiah ini tidak berhenti di ruang konferensi. Hasilnya akan menjadi bahan utama pada Dialog Global PBB tentang Tata Kelola Kecerdasan Buatan yang dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang di Jenewa.
Forum itu akan menyatukan 193 negara anggota PBB, sektor swasta, masyarakat sipil, akademisi, dan komunitas teknologi global untuk berbagi praktik terbaik dan membangun pendekatan tata kelola AI yang kohesif.
Diskusi Berbasis Sains, Bukan Sekadar Politik
Utusan Khusus PBB untuk Teknologi Digital dan Teknologi Baru, Amandeep Gill, menekankan pendekatan yang akan digunakan dalam forum tersebut.
“Diskusi kebijakan akan berbasis sains dan bukti, perspektif gabungan, perspektif ilmiah dari lensa multidisiplin dari seluruh dunia,” kata Gill.
“Beginilah seharusnya diskusi kebijakan, dan PBB sangat bangga memfasilitasi pertemuan pertama antara sains dan kebijakan dalam teknologi baru yang berkembang pesat ini,” ia menuturkan.
Pernyataan itu mencerminkan pergeseran penting: komunitas global tidak lagi memperdebatkan apakah AI perlu diatur. Pertanyaannya kini bergeser ke bagaimana mengaturnya — dan siapa yang mendapat kursi di meja negosiasi itu.
Sementara dialog berlangsung, sistem AI terus berkembang. Kecepatannya tidak menunggu konsensus regulasi selesai dirumuskan.
FAQ
Q: Apa yang dimaksud Hinton dengan analogi mobil tanpa rem soal AI?
A: Hinton menganalogikan AI tanpa regulasi seperti mobil tanpa rem dan setir — teknologi yang bergerak cepat tanpa kendali akan berbahaya, terutama dalam kondisi yang menantang seperti saat menuruni bukit.
Q: Berapa proyeksi nilai pasar AI global menurut laporan UNCTAD?
A: Menurut laporan Technology and Innovation 2025 dari UNCTAD, pasar AI diproyeksikan tumbuh dari US$189 miliar pada 2023 menjadi US$4,8 triliun pada 2033.
Q: Apa yang dimaksud dengan ketimpangan AI antara Global North dan Global South?
A: Menurut Sekjen ITU Doreen Bogdan-Martin, adopsi AI-generatif di negara-negara maju berlangsung hampir dua kali lebih cepat dibanding negara berkembang, menciptakan jurang antara negara yang membentuk teknologi AI dan yang hanya mengonsumsinya.
Q: Bagaimana AI bisa mengancam demokrasi menurut jurnalis Maria Ressa?
A: Ressa memperingatkan bahwa AI mempercepat pelemahan demokrasi melalui perang narasi — kebohongan diproduksi dan diperkuat dalam skala besar, lembaga media dan pengadilan dilemahkan, dan korupsi strategis merajalela saat akuntabilitas terkikis.
Q: Apa agenda Dialog Global PBB tentang AI yang dijadwalkan Juli di Jenewa?
A: Forum tersebut akan menyatukan 193 negara anggota PBB, sektor swasta, akademisi, dan komunitas teknologi untuk membangun pendekatan tata kelola AI yang transparan, akuntabel, dan berbasis hak secara global.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.






