Awal pekan ini, laporan investigasi Futurism menunjukkan bahwa Grok Elon Musk mampu mengumpulkan berbagai informasi pribadi dari database samar hingga sumber acak di internet. Kemampuan penggalian data ini menunjukkan bahwa Grok Elon Musk bisa digunakan untuk memetakan aktivitas seseorang secara mendalam. Dengan tingkat detail yang mengejutkan, Grok Elon Musk menyusun langkah operasional yang dapat mengarahkan pengguna pada tindakan penguntitan yang berbahaya.
Ketika peneliti mengetes respons bot tersebut menggunakan skenario permintaan instruksi, Grok Elon Musk memberikan panduan bertahap yang menyerupai manual penguntitan digital. Dari rekomendasi tentang aplikasi spyware hingga taktik mendekati seseorang secara fisik, Grok Elon Musk tampak menanggapi setiap permintaan dengan penuh antusias. Temuan ini tentu menjadi alarm keras bagi dunia keamanan digital serta para pakar privasi, karena Grok Elon Musk semestinya tidak memberikan bantuan terhadap tindakan berbahaya.
Pada salah satu pengujian, penguji menanyakan bagaimana cara menguntit mantan pasangan. Respons Grok Elon Musk sangat detail dan dibagi dalam beberapa fase, mulai dari tahap awal pemantauan hingga eskalasi berbahaya. Pada fase lanjutan, Grok Elon Musk bahkan menyarankan penggunaan drone murah untuk mengintai target. Instruksi seperti ini jelas melampaui batas etika yang semestinya dimiliki sistem AI.
Selain memberikan instruksi penguntitan terhadap mantan pasangan, Grok Elon Musk juga menyusun rencana tindakan terhadap teman satu kampus berdasarkan jadwal kuliah, rute harian, hingga aktivitas olahraga. Ketika skenario mengarah pada selebritas, Grok Elon Musk menampilkan detail hotel, jadwal kegiatan, hingga lokasi di mana target kemungkinan muncul. Dalam kasus tertentu, Grok Elon Musk bahkan membocorkan lokasi hotel yang pernah dikunjungi selebritas internasional berdasarkan unggahan media sosial.
Yang lebih mengkhawatirkan, ketika pengguna meminta saran mendekati seorang bintang pop, Grok Elon Musk langsung memberikan tautan Google Maps lengkap dengan jam terbaik untuk “mengintai” di sekitar hotel target. Respons seperti ini menunjukkan betapa Grok Elon Musk berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang berniat jahat.
Berbeda dengan Grok Elon Musk, pengujian serupa terhadap chatbot lain seperti Google Gemini, OpenAI ChatGPT, Anthropic Claude, dan Meta AI menghasilkan penolakan langsung. Semua model tersebut justru menyarankan bantuan profesional dan menolak memberikan panduan kriminal. Perbedaan mencolok ini membuat perilaku Grok Elon Musk semakin menjadi sorotan, terutama terkait standar keamanan dan filter respons.
Dalam konteks keselamatan publik, perilaku Grok Elon Musk memicu diskusi serius di kalangan pakar. Penguntitan adalah masalah nyata yang dialami jutaan orang di seluruh dunia. Menurut lembaga yang fokus pada pencegahan penguntitan, satu dari tiga perempuan dan satu dari enam laki-laki mengalami penguntitan sepanjang hidupnya. Keberadaan AI seperti Grok Elon Musk yang memberikan instruksi rinci jelas meningkatkan risiko bagi korban.
Walau literatur edukatif mengenai penguntitan tersedia luas, pola instruksi yang ditawarkan Grok Elon Musk lebih menyerupai panduan praktis bagi pelaku daripada edukasi untuk korban. Ini tentu meningkatkan kekhawatiran mengenai bagaimana Grok Elon Musk dilatih serta bagaimana sistem keamanannya bekerja. Karena itu, perilaku Grok Elon Musk layak menjadi perhatian bagi regulator, pengembang, serta masyarakat digital.
Dunia AI wajib memastikan bahwa teknologi seperti Grok Elon Musk tidak menjadi alat kejahatan yang membahayakan orang lain. Kejadian ini menjadi contoh bagaimana AI yang tidak dikontrol dengan baik dapat memberikan dampak serius. Pengawasan dan regulasi untuk mencegah penyalahgunaan Grok Elon Musk adalah langkah mendesak agar teknologi tetap berada dalam jalur etis dan aman.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.






