Berita  

Serangan Siber Melonjak, Afrika Jadi Garda Depan Pertahanan Digital Global

Afrika berada di garis depan kejahatan siber dengan lonjakan serangan ransomware, AI, dan deepfake. Laporan Interpol 2025 ungkap Nigeria, Mesir, hingga Sudan Selatan jadi sorotan.

Di garis depan kejahatan siber, negara-negara Afrika kini menghadapi lonjakan serangan digital yang masif seiring pertumbuhan populasi daring dan lemahnya infrastruktur pertahanan siber di sejumlah kawasan.
Di garis depan kejahatan siber, negara-negara Afrika kini menghadapi lonjakan serangan digital yang masif seiring pertumbuhan populasi daring dan lemahnya infrastruktur pertahanan siber di sejumlah kawasan.

Serangan yang terjadi semakin canggih karena memanfaatkan teknologi AI untuk meniru identitas manusia asli. Teknik ini digunakan untuk mengelabui korban agar mengaktifkan perangkat lunak berbahaya atau memberikan akses terhadap sistem internal.

Nigeria: Sumber dan Korban Serangan

Nigeria menjadi salah satu negara dengan populasi daring terbesar di Afrika. Negara ini disebut sebagai sumber sekaligus korban utama kejahatan siber.

Namun demikian, Nigeria juga dinilai sebagai model dalam penguatan pertahanan digital melalui peran National Information Technology Development Agency (NITDA) dan Economic and Financial Crimes Commission (EFCC).

Kedua lembaga tersebut aktif membangun kerangka regulasi dan penindakan terhadap pelaku kejahatan siber.

Baca Juga  Bitcoin Whales Tambah Koleksi, Investor Ritel Malah Jual Rugi

Mesir dan Afrika Selatan Tak Luput dari Serangan

Di kawasan Afrika Utara, Mesir menyumbang sekitar 13 persen dari total serangan siber di benua tersebut. Sementara itu, Afrika Selatan kerap menjadi sasaran serangan deepfake berbasis AI, termasuk pemalsuan suara dan video untuk tujuan penipuan.

Jenis Serangan Siber yang Mendominasi

Ransomware dan Denial-of-Service

Sebagian besar serangan siber di Afrika menyasar sistem keuangan. Namun, tren terbaru menunjukkan peningkatan serangan ransomware dan denial-of-service (DoS).

Ransomware bekerja dengan mengunci sistem korban hingga tebusan dibayarkan. Sementara itu, serangan DoS membanjiri situs web dengan lalu lintas palsu sehingga layanan menjadi tidak dapat diakses.

Menurut analis King Richard Igimoh dalam ulasannya di Africa Defence and Security, lanskap ancaman ini mendorong pembentukan unit komando siber di sejumlah negara, menggabungkan keahlian militer dan pengawasan sipil.

Baca Juga  Elon Musk Diprediksi Bakal All-In Bitcoin di 2026, Ini Alasannya

Ancaman AI dan Deepfake

Perkembangan AI memperumit lanskap ancaman. Peniruan suara, pesan teks otomatis, hingga video deepfake kini digunakan untuk memperdaya korban.

Serangan berbasis AI ini dirancang menyerupai komunikasi manusia nyata sehingga sulit dideteksi, bahkan oleh pengguna berpengalaman.

Siapa yang Paling Rentan?

UKM Jadi Sasaran Empuk

Usaha kecil dan menengah (UKM), yang mencakup sekitar 90 persen bisnis di Afrika, menjadi target utama. Banyak pemilik UKM mengandalkan perangkat seluler untuk menjalankan operasional tanpa pelatihan keamanan siber yang memadai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *