Berita  

Proyek Data Center USD 1 Miliar Microsoft-G42 di Kenya Tersandung Krisis Listrik

Proyek data center USD 1 miliar Microsoft dan G42 di Kenya terancam mandek. Presiden Ruto: skala penuh 1 GW berarti memadamkan listrik separuh negara. Negosiasi jaminan finansial juga buntu.

Proyek data center USD 1 miliar Microsoft dan G42 di Kenya terancam mandek.
Proyek data center USD 1 miliar Microsoft dan G42 di Kenya terancam mandek.

Ruto: Nyalakan Data Center Microsoft Berarti Padamkan Listrik Separuh Kenya

INFO TEKNO> Rencana pembangunan pusat data senilai USD 1 miliar oleh Microsoft dan perusahaan kecerdasan buatan asal Abu Dhabi, G42, di Kenya kini terancam mandek akibat dua masalah sekaligus: krisis kapasitas listrik dan kebuntuan negosiasi jaminan finansial dengan pemerintah setempat, dikutip detikINET dari Techspot, Minggu (18/5/2026).

Proyek yang diumumkan pada Mei 2024 ini sedianya akan berlokasi di fasilitas panas bumi Olkaria, Lembah Rift. Microsoft berencana menggunakan infrastruktur yang dibangun G42 tersebut untuk meluncurkan cloud region Azure baru di kawasan Afrika Timur.

Tahap pertama proyek dirancang menyerap kapasitas listrik sebesar 100 Megawatt, dengan target ekspansi hingga skala penuh 1 Gigawatt di masa depan. Angka 1 GW inilah yang langsung menimbulkan masalah serius ketika dihadapkan dengan kenyataan infrastruktur kelistrikan Kenya.

Total kapasitas terpasang listrik di seluruh Kenya saat ini hanya berkisar antara 3 hingga 3,2 GW, dengan rekor beban puncak menyentuh angka 2,4 GW pada Januari lalu. Artinya, data center Microsoft dalam skala penuh akan menyerap sekitar sepertiga dari seluruh kapasitas listrik nasional Kenya.

Presiden Kenya William Ruto secara blak-blakan menyatakan bahwa jika pusat data AI tersebut dioperasikan dalam skala penuh, pemerintah terpaksa harus mematikan listrik di separuh negara hanya untuk menyalakan fasilitas tersebut. Pernyataan itu memperjelas betapa tidak sebandingnya kebutuhan daya mega-proyek ini dengan kemampuan infrastruktur kelistrikan Kenya saat ini.

Baca Juga  Transformasi Besar Kotlin: Dari Bahasa Android hingga Ekosistem Data Science Modern

Bahkan untuk tahap awal yang hanya membutuhkan 100 MW pun, proyek ini akan menguras porsi yang sangat signifikan dari total produksi kompleks panas bumi Olkaria — yang kapasitas keseluruhannya hanya sekitar 950 MW.

Krisis kapasitas listrik ternyata bukan satu-satunya hambatan. Laporan Bloomberg mengungkap bahwa Microsoft dan G42 juga menuntut agar pemerintah Kenya memberikan jaminan pembayaran tahunan untuk sejumlah kapasitas tertentu dari data center tersebut.

Negosiasi menemui jalan buntu karena pemerintah Kenya tidak sanggup memenuhi jaminan keuangan yang diminta. Meski belum dibatalkan secara resmi, para pejabat setempat mengakui bahwa skala proyek ini masih memerlukan restrukturisasi — sebuah sinyal bahwa proyek senilai USD 1 miliar ini jauh dari selesai secara diplomatik maupun teknis.

Kasus Kenya ini semakin menambah panjang daftar kontroversi seputar masifnya pembangunan data center AI di berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat, proyek kampus AI Stargate senilai USD 16 miliar di Michigan tetap dilanjutkan meski ditolak oleh dewan kota setempat. Di Georgia, sebuah pusat data dilaporkan menyedot lebih dari 29 juta galon air tanpa ditagih biaya pada awalnya, sementara warga sekitar menderita akibat berkurangnya tekanan air bersih.

Baca Juga  Mallorca Perkuat Keamanan Siber Lewat Investasi SOC Bernilai €10 Juta

FAQ

Q: Mengapa rencana data center Microsoft di Kenya terancam gagal?
A: Ada dua hambatan utama. Pertama, skala penuh 1 GW data center tersebut akan menyerap sepertiga kapasitas listrik nasional Kenya yang hanya 3-3,2 GW — Presiden Ruto menyatakan ini berarti memadamkan listrik di separuh negara. Kedua, negosiasi jaminan pembayaran tahunan yang diminta Microsoft dan G42 menemui jalan buntu karena Kenya tidak sanggup memenuhinya.

Q: Di mana data center Microsoft di Kenya akan dibangun?
A: Proyek senilai USD 1 miliar ini sedianya berlokasi di fasilitas panas bumi Olkaria di Lembah Rift, Kenya. Microsoft berencana menggunakan infrastruktur yang dibangun oleh G42 untuk meluncurkan cloud region Azure baru di kawasan Afrika Timur.

Q: Berapa kapasitas listrik Kenya dan seberapa besar dampak proyek ini?
A: Total kapasitas terpasang listrik Kenya berkisar 3 hingga 3,2 GW dengan beban puncak 2,4 GW. Skala penuh data center Microsoft membutuhkan 1 GW — sekitar sepertiga kapasitas nasional. Bahkan tahap awal yang butuh 100 MW sudah menyedot porsi signifikan dari total produksi kompleks panas bumi Olkaria yang hanya menghasilkan sekitar 950 MW.

Baca Juga  Nvidia Rilis Platform AI Vera Rubin di GTC 2026, Dorong Era Agentic AI

Q: Siapa G42 dan apa perannya dalam proyek ini?
A: G42 adalah perusahaan kecerdasan buatan asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dalam proyek ini, G42 bertugas membangun infrastruktur data center, sementara Microsoft akan menggunakan fasilitas tersebut untuk mengoperasikan cloud region Azure baru di Afrika Timur.

Q: Apakah proyek data center Microsoft di Kenya sudah dibatalkan?
A: Belum dibatalkan secara resmi. Namun para pejabat Kenya mengakui bahwa skala proyek masih memerlukan restrukturisasi, menyusul kebuntuan negosiasi soal jaminan finansial dan ketidaksesuaian kapasitas listrik nasional dengan kebutuhan daya proyek tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *