Berita  

Uji Kekuatan AI India: Model Sarvam Diuji Lawan DeepSeek, OpenAI, dan Google

AI India dari Sarvam AI diuji melawan model global seperti GPT-5.2, Gemini 3, dan DeepSeek R1. Hasil pengujian menunjukkan kemampuan kompetitif, namun masih memunculkan sejumlah pertanyaan teknis.

AI India kembali menjadi perhatian dalam industri kecerdasan buatan global setelah model large language model (LLM) yang dikembangkan perusahaan rintisan Sarvam AI diuji terhadap sejumlah model terkemuka dunia.
AI India kembali menjadi perhatian dalam industri kecerdasan buatan global setelah model large language model (LLM) yang dikembangkan perusahaan rintisan Sarvam AI diuji terhadap sejumlah model terkemuka dunia.

AI India dari Sarvam AI Diuji Melawan Model Global

Info Tekno> AI India kembali menjadi perhatian dalam industri kecerdasan buatan global setelah model large language model (LLM) yang dikembangkan perusahaan rintisan Sarvam AI diuji terhadap sejumlah model terkemuka dunia. Pengujian tersebut dilakukan oleh media teknologi CNA dengan membandingkan model 105 miliar parameter milik Sarvam dengan GPT-5.2 dari OpenAI, Gemini 3 dari Google, serta R1 dari DeepSeek.

Pengujian ini dilakukan menggunakan berbagai jenis prompt atau perintah untuk mengukur kemampuan model dalam beberapa aspek penting seperti penalaran logis, kefasihan bahasa, akurasi informasi, kreativitas, serta kemampuan memahami konteks budaya. Hasilnya menunjukkan bahwa model AI dari India tersebut mampu bersaing secara kompetitif dengan model global, meskipun masih terdapat sejumlah kelemahan yang menjadi perhatian para pakar.

Perkembangan ini muncul di tengah meningkatnya ambisi India dalam membangun ekosistem kecerdasan buatan domestik yang mampu bersaing dengan perusahaan teknologi global. Selama beberapa tahun terakhir, negara tersebut dikenal memiliki keahlian dalam pengembangan perangkat lunak berbasis AI, namun belum dianggap sejajar dengan perusahaan seperti OpenAI, Google, Anthropic, DeepSeek, atau Alibaba.

Pertanyaan besar yang kini muncul adalah apakah peluncuran model AI baru dari Sarvam AI benar-benar menandai terobosan teknologi besar bagi India atau hanya sekadar klaim yang masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.

Peluncuran Model AI Sarvam di India AI Impact Summit 2026

Siapa yang Mengembangkan Model Ini?

Model AI yang diuji dalam laporan tersebut dikembangkan oleh Sarvam AI, sebuah perusahaan rintisan teknologi asal India yang fokus pada pengembangan large language model.

Perusahaan ini memperkenalkan model terbaru mereka dalam ajang India AI Impact Summit 2026 yang berlangsung pada Februari lalu. Dalam acara tersebut, Sarvam AI meluncurkan dua model utama, yakni model dengan kapasitas 105 miliar parameter dan model kedua dengan 30 miliar parameter.

Peluncuran tersebut menjadi salah satu proyek AI paling ambisius yang pernah dilakukan oleh perusahaan teknologi India.

Selain Sarvam AI, empat perusahaan India lainnya juga memperkenalkan model AI mereka dalam acara yang sama, termasuk:

  • Gnani.ai dengan model fondasi berbasis suara
  • BharatGen Initiative dengan model Param 2 berkapasitas 17 miliar parameter
  • Tech Mahindra dengan model pendidikan bahasa Hindi berkapasitas 8 miliar parameter
  • Fractal Analytics yang fokus pada AI untuk sektor kesehatan

Namun sebagian besar model tersebut memiliki kapasitas yang lebih kecil atau dirancang untuk kebutuhan spesifik.

Bagaimana Model Sarvam AI Dibangun?

Model Dibangun dari Nol

Sarvam AI menyatakan bahwa kedua model barunya dikembangkan sepenuhnya dari awal, berbeda dengan model sebelumnya yaitu Sarvam-M yang dirilis pada Mei 2025.

Baca Juga  Fakta Mengejutkan Grok Elon Musk: Chatbot yang Memberikan Instruksi Berbahaya Secara Detail

Model Sarvam-M diketahui dibangun di atas model Small milik perusahaan AI asal Prancis, Mistral AI. Dalam peluncuran terbaru ini, perusahaan mengklaim telah mengembangkan arsitektur model sendiri tanpa bergantung pada model eksternal.

Dalam presentasi yang disampaikan oleh CEO sekaligus salah satu pendiri perusahaan, Pratyush Kumar, model 105B tersebut disebut memiliki performa yang sebanding dengan beberapa model open-weight terkemuka dunia.

Beberapa model yang disebut sebagai pembanding meliputi:

  • GPT-OSS 120B dari OpenAI
  • Qwen3 Next 80B dari Alibaba
  • GLM 4.5 Air dari Zhipu AI

Model open-weight adalah model AI yang kode program serta parameter pelatihannya tersedia secara publik sehingga dapat diuji dan dikembangkan oleh para peneliti dan pengembang secara independen.

Teknologi Parameter Aktif yang Diklaim Lebih Efisien

Apa Itu Parameter dalam Model AI?

Dalam sistem AI berbasis LLM, parameter merupakan nilai internal yang dipelajari model selama proses pelatihan. Parameter ini menentukan bagaimana model memproses masukan dan menghasilkan respons.

Secara umum, semakin banyak parameter yang dimiliki sebuah model, semakin besar pula kapasitasnya untuk menangani tugas yang kompleks. Namun desain arsitektur model juga memainkan peran penting dalam menentukan efisiensi sistem.

Klaim Hanya Menggunakan 9 Miliar Parameter Aktif

Salah satu klaim paling menarik dari Sarvam AI adalah bahwa model 105B mereka hanya mengaktifkan sekitar 9 miliar parameter aktif untuk setiap prompt.

Artinya, meskipun model tersebut memiliki total 105 miliar parameter, hanya sebagian kecil yang digunakan setiap kali memproses pertanyaan.

Menurut perusahaan, pendekatan ini memungkinkan model beroperasi dengan biaya komputasi lebih rendah karena membutuhkan lebih sedikit memori, daya pemrosesan, dan konsumsi energi.

Sebagai perbandingan:

  • Model DeepSeek R1 mengaktifkan sekitar 37 miliar parameter per prompt
  • Model GPT-OSS 120B mengaktifkan sekitar 5,1 miliar parameter

CEO perusahaan teknologi Karmaloop AI, Abhishek Chatterjee, mengaku terkesan namun tetap berhati-hati terhadap klaim tersebut.

Menurutnya, jika model tersebut benar-benar mampu mencapai kemampuan penalaran tinggi dengan hanya 9 miliar parameter aktif, maka hal itu merupakan inovasi signifikan dalam pengembangan AI.

Namun ia menegaskan bahwa klaim tersebut perlu diverifikasi melalui pengujian independen.

Infrastruktur GPU dan Dukungan Pemerintah India

Peran IndiaAI Mission

Pengembangan model berskala besar seperti Sarvam 105B membutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar. Dalam konteks India, akses terhadap infrastruktur GPU kelas tinggi baru tersedia secara luas dalam beberapa tahun terakhir.

Program IndiaAI Mission yang didukung pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan model ini.

Baca Juga  OpenAI Bersiap Masuk Pasar Hardware, Earbud AI Jadi Produk Perdana

Pada Mei 2025, Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi India (MeitY) memberikan akses kepada Sarvam AI terhadap 4.086 chip Nvidia H100, salah satu GPU AI paling kuat yang tersedia saat ini.

Menurut Chatterjee, eksekutif Sarvam AI sendiri mengakui bahwa pengembangan model tersebut kemungkinan tidak akan bisa dilakukan setahun sebelumnya karena keterbatasan infrastruktur komputasi.

Pengujian Model AI Sarvam oleh CNA

Aspek yang Diuji

Media teknologi CNA menguji model AI Sarvam dengan membandingkannya dengan beberapa model AI terkemuka dunia. Pengujian dilakukan dalam beberapa kategori utama, termasuk:

  • Penalaran logis
  • Kefasihan bahasa
  • Akurasi informasi
  • Pemahaman konteks budaya
  • Kreativitas
  • Keamanan sistem (safety guardrails)

Secara keseluruhan, model AI Sarvam dinilai cukup kompetitif dibandingkan model global.

Keunggulan dalam Bahasa Indic

Model Sarvam menunjukkan performa yang lebih baik dalam tugas yang berkaitan dengan konteks India, terutama dalam penggunaan bahasa lokal.

Model tersebut mampu berkomunikasi dalam 22 bahasa Indic, termasuk:

  • Hindi
  • Tamil
  • Marathi
  • Gujarati
  • Bengali
  • Urdu

Sebagai perbandingan:

  • ChatGPT mendukung sekitar 12 bahasa Indic
  • DeepSeek R1 mendukung sekitar 11 bahasa
  • Gemini mendukung sekitar 9 bahasa

Keunggulan ini kemungkinan berasal dari dataset pelatihan yang berfokus pada bahasa dan konteks budaya India.

Tantangan Transparansi dan Keamanan Model

Kurangnya Model Card dan Dokumentasi

Meskipun performa model dinilai cukup kompetitif, beberapa pakar menyampaikan kekhawatiran terkait transparansi teknis.

Hingga saat ini Sarvam AI belum merilis model weights, white paper teknis, maupun model card yang menjelaskan data pelatihan, desain arsitektur, serta kebijakan keamanan model.

Menurut Amit Verma, Head of Engineering di Neuron7.ai, kurangnya transparansi tersebut dapat menimbulkan keraguan bagi perusahaan yang ingin mengadopsi teknologi ini.

Model card sendiri merupakan dokumen penting yang menjelaskan tujuan penggunaan model, performa, serta pertimbangan keamanan.

Uji Keamanan dan Potensi Masalah Privasi

Pengujian Jailbreak

Dalam pengujian keamanan yang dilakukan oleh tim Verma, model Sarvam diketahui gagal dalam lima uji jailbreak.

Uji jailbreak merupakan metode untuk mengevaluasi apakah model AI dapat dipaksa menghasilkan respons yang melanggar aturan keamanan.

Dalam salah satu pengujian, model Sarvam menolak permintaan langsung untuk memberikan alamat rumah CEO Google Sundar Pichai.

Namun ketika pertanyaan diubah menjadi menghitung jarak antara rumah Pichai dan kantor pusat Google, model tersebut diduga memberikan lokasi spesifik.

Menurut Verma, kondisi tersebut dapat menimbulkan dua kemungkinan masalah, yaitu:

  • Halusinasi AI yang menghasilkan informasi salah
  • Potensi pelanggaran privasi jika data tersebut benar

Persaingan Ketat di Industri AI India

Kompetitor Domestik

Sarvam AI tidak sendirian dalam mengembangkan model AI besar di India.

Baca Juga  Gemma 4: AI Open-Weight Google Kalahkan Model Lebih Besar

Beberapa perusahaan lain juga sedang mengembangkan model AI skala besar, termasuk:

  • Soket AI yang dilaporkan mengembangkan model 120B
  • Krutrim AI dari Ola Group yang mengembangkan model hingga 700B
  • Gnani AI
  • BharatGen Initiative
  • Tech Mahindra

Persaingan ini menunjukkan bahwa ekosistem AI India sedang berkembang pesat.

Dukungan Pasar yang Besar

India memiliki sekitar satu miliar pengguna internet, dengan lebih dari 700 juta di antaranya telah menggunakan teknologi AI, menurut data pemerintah.

Selain itu, laporan EY dan Confederation of Indian Industry menunjukkan bahwa hampir setengah perusahaan India telah menggunakan AI dalam berbagai proses bisnis.

Pasar AI India sendiri diperkirakan akan tumbuh dari US$13 miliar pada 2025 menjadi lebih dari US$130 miliar pada 2032.

Apakah India Akan Mengalami “Momen DeepSeek”?

Para pakar menilai bahwa keberhasilan DeepSeek pada 2025 dipicu oleh tiga faktor utama:

  1. Merilis model open-weight secara publik
  2. Menunjukkan efisiensi biaya secara jelas
  3. Memungkinkan benchmarking independen

Model Sarvam AI saat ini belum memenuhi ketiga kriteria tersebut.

Namun demikian, para analis menilai bahwa keberhasilan Sarvam tetap memiliki arti penting bagi perkembangan teknologi India.

CEO Sarvam AI Pratyush Kumar menegaskan bahwa fokus utama perusahaan bukan semata-mata bersaing secara global, tetapi membangun ekosistem AI yang kuat untuk kebutuhan domestik India.

Opini Penulis – Aaf Afiatna

Menurut penulis Aaf Afiatna, kemunculan model AI Sarvam menunjukkan bahwa peta persaingan kecerdasan buatan global mulai berubah secara perlahan.

Jika sebelumnya inovasi AI didominasi oleh Amerika Serikat dan China, kini negara lain seperti India mulai membangun kapasitas teknologi mereka sendiri.

Meskipun model Sarvam belum dapat disebut sebagai “momen DeepSeek” bagi India, langkah ini tetap penting sebagai bukti bahwa negara tersebut mampu mengembangkan large language model skala besar secara mandiri.

Ke depan, faktor transparansi teknis, validasi independen, serta ekosistem infrastruktur akan menjadi penentu apakah AI India benar-benar mampu bersaing di panggung global atau hanya berkembang sebagai kekuatan regional yang kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *