Komisi Eropa menyatakan bahwa pihaknya sedang menganalisis bagaimana kebijakan Meta yang membatasi akses chatbot AI pesaing dapat berdampak terhadap perusahaan teknologi lain yang beroperasi di pasar digital.
Investigasi ini juga bertujuan memastikan bahwa platform digital besar tidak menyalahgunakan dominasi pasar mereka untuk menghambat persaingan.
Kasus Serupa di Italia
Regulator Italia Lebih Dulu Mengambil Tindakan
Kasus yang terjadi di Uni Eropa sebenarnya bukan pertama kali bagi Meta. Sebelumnya, regulator persaingan usaha di Italia telah mengambil langkah serupa pada Desember 2025.
Otoritas anti-monopoli Italia saat itu memerintahkan Meta untuk membuka akses bagi chatbot AI pihak ketiga di dalam ekosistem WhatsApp.
Sebagai respons terhadap keputusan tersebut, Meta akhirnya mengizinkan chatbot AI pesaing beroperasi di WhatsApp khusus untuk wilayah Italia pada Januari 2026.
Namun demikian, investigasi terkait praktik persaingan usaha di negara tersebut masih terus berlangsung hingga saat ini.
Keputusan di Italia kemudian menjadi salah satu referensi bagi regulator Uni Eropa dalam mempertimbangkan tindakan terhadap Meta.
Kritik dari Pengembang AI
Pengembang AI Menilai Kebijakan Baru Belum Cukup
Meskipun Meta telah membuka akses bagi chatbot AI pesaing, sejumlah pengembang teknologi tetap mengkritik kebijakan tersebut. Salah satu pihak yang menyuarakan kritik adalah The Interaction Company of California, pengembang asisten AI bernama Poke.com.
Perusahaan tersebut sebelumnya mengajukan pengaduan kepada regulator Uni Eropa dan Italia terkait kebijakan Meta yang dianggap menghambat persaingan.
CEO perusahaan tersebut, Marvin von Hagen, menilai langkah Meta belum sepenuhnya menyelesaikan masalah yang ada.
Menurutnya, meskipun akses bagi chatbot AI pesaing dibuka, Meta tetap menerapkan sistem biaya yang dinilai memberatkan bagi pengembang teknologi AI lainnya.
“Apa yang Meta sajikan sebagai kepatuhan dengan itikad baik sebenarnya adalah kebalikannya,” kata Marvin von Hagen.
Ia juga menilai bahwa kebijakan baru tersebut hanya menggantikan satu bentuk pembatasan dengan pembatasan lainnya.
“Perusahaan tersebut sekarang memperkenalkan penetapan harga yang menyulitkan bagi penyedia AI yang membuatnya sama mustahilnya untuk beroperasi di WhatsApp seperti halnya larangan total,” ujarnya.
Menurut von Hagen, solusi yang diterapkan Meta di Italia juga tidak benar-benar menyelesaikan masalah persaingan.
“Apa yang disebut solusi Italia bukanlah solusi sama sekali. Itu hanya mengganti satu pembatasan anti-persaingan dengan yang lain,” tambahnya.
Alasan Meta Membatasi Akses Sebelumnya
Meta sebelumnya menjelaskan bahwa meningkatnya penggunaan chatbot AI di platformnya berpotensi memberikan beban tambahan terhadap infrastruktur sistem perusahaan.
Perusahaan juga menyatakan bahwa penyedia layanan AI sebenarnya masih memiliki banyak saluran lain untuk menjangkau pengguna, seperti:
- toko aplikasi
- mesin pencari
- layanan email
- integrasi kemitraan
- sistem operasi perangkat
Dengan demikian, menurut Meta, pembatasan akses chatbot AI di WhatsApp bukanlah satu-satunya hambatan bagi pengembang AI untuk menjangkau pengguna.
Namun regulator tetap menilai bahwa WhatsApp sebagai platform pesan instan global memiliki posisi strategis yang dapat memengaruhi persaingan di sektor teknologi AI.
Dampak Kebijakan Terhadap Ekosistem AI
WhatsApp Jadi Arena Persaingan Baru AI
Perubahan kebijakan ini menunjukkan bahwa WhatsApp kini semakin menjadi bagian penting dalam persaingan teknologi kecerdasan buatan.







