Di sisi lain, analis Counterpoint, Flora Tang, menyebut beberapa pemain besar telah memasuki persaingan kacamata pintar AI China. Xiaomi, RayNeo, Thunderobot, dan Kopin menjadi nama yang sering dibicarakan di sektor ini. Tak hanya itu, Xiaomi bahkan dijuluki “kuda hitam” setelah produk debut kacamata pintar AI China miliknya menjadi perangkat terlaris nomor tiga pada paruh pertama 2025. Padahal produk tersebut hanya dipasarkan selama sekitar satu minggu.
Rokid, sebagai pionir besar, semakin menunjukkan kekuatannya. Perusahaan tersebut sukses mengumpulkan lebih dari 4 juta dolar AS melalui kampanye crowdfunding di Kickstarter. Langkah ini menunjukkan bahwa minat global terhadap kacamata pintar AI China semakin meningkat.
Zhu menjelaskan bahwa Rokid mengamati perkembangan perusahaan raksasa dunia, tetapi tetap mengusung strategi berbeda. Mereka menyasar pasar domestik sekaligus pasar global dengan pendekatan unik. Pengguna kacamata pintar AI China dari Rokid dapat mengakses aplikasi lokal saat berada di China dan aplikasi internasional saat berada di luar negeri. Strategi ini membuat perangkat lebih fleksibel dibandingkan kompetitor seperti Meta.
Yang membuat banyak orang tertarik adalah keterbukaan Rokid terhadap berbagai model AI. Mereka tidak mengunci sistem pada satu ekosistem. Kacamata pintar AI China buatan Rokid dapat terhubung ke OpenAI, Llama, Gemini, dan Grok. Keterbukaan ini memberi nilai lebih bagi pengguna yang ingin menikmati AI beragam dalam satu perangkat.







