Pada awal berdirinya, Tripod sebenarnya tidak berfokus pada iklan sebagai sumber pendapatan utama. Perusahaan tersebut sempat mencoba berbagai model bisnis, mulai dari layanan berlangganan berbayar, penjualan produk, hingga kerja sama dengan penerbit buku dan majalah.
Namun, seiring waktu, model-model tersebut tidak memberikan hasil yang cukup untuk menopang keberlangsungan bisnis. Pada akhirnya, iklan menjadi satu-satunya opsi realistis agar Tripod dapat bertahan dan berkembang.
Tantangan Menarik Pengiklan Besar
Masalah muncul ketika Tripod mencoba menarik pengiklan berskala besar. Banyak perusahaan enggan menempatkan iklan mereka secara langsung di dalam halaman pengguna, karena konten yang dibuat bersifat bebas dan tidak selalu sesuai dengan citra merek.
Situasi ini mencapai titik kritis ketika sebuah perusahaan otomotif besar menyampaikan keberatan. Mereka merasa tidak nyaman karena iklan mereka muncul di halaman pengguna yang berisi konten dewasa. Kekhawatiran tersebut memicu kepanikan internal dan mendorong tim Tripod mencari solusi cepat.
Konsep Pop-Up sebagai Solusi Bisnis
Iklan Terpisah dari Konten Pengguna
Dari kebutuhan itulah konsep iklan pop-up muncul. Ide dasarnya adalah menampilkan iklan di jendela terpisah yang tetap muncul di atas halaman utama pengguna, namun secara visual tidak terikat langsung dengan konten yang sedang dibuka.
Metode ini dianggap sebagai solusi cerdas pada masanya. Dengan pop-up, pengiklan tetap mendapatkan visibilitas, sementara Tripod dapat meyakinkan klien bahwa iklan mereka tidak secara eksplisit melekat pada konten tertentu.
Zuckerman kemudian menulis kode untuk membuka jendela baru secara otomatis dan menayangkan iklan di dalamnya. Dari sinilah lahir format iklan pop-up yang kemudian diadopsi secara luas di internet.
Dampak yang Tak Pernah Dibayangkan
Meski awalnya dirancang sebagai solusi teknis dan bisnis yang praktis, Zuckerman mengakui bahwa dampak jangka panjang iklan pop-up jauh melampaui ekspektasi awal. Inovasi tersebut dengan cepat diadopsi oleh industri periklanan digital, lalu berkembang menjadi berbagai bentuk iklan agresif lainnya.







