Selain memperluas kemampuan perangkat, Samsung juga berambisi memulihkan dominasi pasar ponsel pintarnya yang sempat diambil alih Apple, sambil memperkuat pertahanan terhadap produsen asal Tiongkok seperti Huawei dan Xiaomi.
Galaxy AI: Dari Tren Teknologi Menjadi Identitas Merek
Samsung mencatat peningkatan luar biasa dalam kesadaran publik terhadap Galaxy AI. Menurut data internal perusahaan, tingkat pengenalan terhadap merek ini melonjak dari 30% menjadi 80% hanya dalam satu tahun — sebuah indikator kuat bahwa pengguna mulai memahami nilai praktis dari fitur berbasis AI yang ditanamkan pada perangkat mereka.
Galaxy AI sendiri mencakup beragam fungsi pintar, mulai dari terjemahan real-time, asisten konteks kamera, hingga optimalisasi daya baterai berbasis perilaku pengguna. Ke depan, Samsung menargetkan agar teknologi ini tidak hanya menjadi fitur tambahan, tetapi menjadi identitas utama dari seluruh lini produknya.
“Meski saat ini teknologi AI mungkin masih dianggap belum matang, enam bulan hingga satu tahun ke depan akan menjadi periode di mana adopsinya meluas secara masif,” kata Roh optimistis.
Tantangan Global: Krisis Chip dan Dinamika Pasar Lipat
Meski prospeknya cerah, Samsung juga menghadapi sejumlah tantangan strategis. Salah satunya adalah krisis chip memori global yang memengaruhi biaya produksi perangkat seluler. Roh mengakui bahwa kondisi ini berdampak pada margin keuntungan bisnis smartphone, meski juga memberikan peluang positif bagi divisi semikonduktor perusahaan.
“Dampaknya tak bisa dihindari, dan kami sedang meninjau ulang struktur harga untuk menjaga daya saing,” ujarnya.
Selain itu, pasar ponsel lipat — segmen yang dipelopori Samsung — menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat dari proyeksi. Namun, Roh tetap optimistis bahwa ponsel lipat akan menjadi arus utama (mainstream) dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Ia menyebut tingkat loyalitas pengguna di segmen ini sangat tinggi, meski tidak merinci angka pastinya.








Responses (2)