Angka ini menegaskan fokus Beijing pada pengembangan swarm drone, sejalan dengan dominasinya atas lebih dari 80 persen produksi drone kecil dunia.
Upaya AS Mengejar Ketertinggalan
Pentagon berupaya mengejar ketertinggalan dengan mengembangkan drone kamikaze jarak jauh seharga sekitar 35.000 dolar AS. Perusahaan Barat seperti Anduril Industries dan Auterion juga menguji teknologi swarm, meski hasilnya masih terbatas.
Berbeda dengan China, doktrin militer AS cenderung memprioritaskan otonomi drone individual yang bekerja bersama manusia, bukan swarm otonom sepenuhnya.
Potensi Konflik dan Kekhawatiran Global
Skenario Taiwan
Analis memperkirakan salah satu skenario penggunaan drone swarm China adalah dalam konflik Taiwan. Swarm dapat dikerahkan untuk memburu pertahanan udara setelah serangan awal, menciptakan kepadatan daya tembak yang sulit ditangkal.
Di sisi lain, dokumen riset China juga menunjukkan minat kuat pada teknologi anti-swarm, menandakan kesadaran bahwa senjata ini juga dapat menjadi ancaman bagi pihak yang menggunakannya.
Seruan Aturan Global
Kekhawatiran global muncul terkait keputusan mematikan AI yang sulit dijelaskan dan potensi penghindaran tanggung jawab. Sejumlah pihak menyerukan pembatasan internasional penggunaan AI dalam perang, meski hingga kini belum ada kesepakatan nyata.
Kolonel purnawirawan PLA Zhou Bo menilai bahwa China dan AS masih ingin memahami sepenuhnya dampak AI di medan tempur sebelum menyetujui pembatasan apa pun.
Kesimpulan: Masa Depan Perang di Tangan Algoritma?
Pengembangan drone swarm berbasis AI oleh China menandai babak baru dalam evolusi peperangan modern. Terinspirasi dari alam, didorong oleh kekuatan manufaktur, dan dipercepat oleh persaingan geopolitik, teknologi ini berpotensi mengubah wajah konflik bersenjata secara fundamental.
Namun, di balik keunggulan strategisnya, tersimpan risiko besar—baik teknis, etis, maupun kemanusiaan. Ketika algoritma mulai menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati, dunia dihadapkan pada pertanyaan mendasar: sejauh mana manusia siap menyerahkan kendali perang kepada mesin?







