Berita  

Perang Dingin AI: China Kembangkan Drone Swarm Otonom Terinspirasi Predator Alam

China mempercepat pengembangan drone swarm berbasis AI untuk militer, memicu kekhawatiran global soal perang otonom dan persaingan teknologi dengan AS.

Drone swarm berbasis AI China kini menjadi simbol terbaru dari eskalasi persaingan teknologi militer global.
Drone swarm berbasis AI China kini menjadi simbol terbaru dari eskalasi persaingan teknologi militer global.

Pengalaman perang Ukraina memperkuat keyakinan tersebut. Di konflik itu, drone terbukti menjadi elemen krusial, baik sebagai alat pengintaian, senjata serangan presisi, maupun drone bunuh diri yang relatif murah namun mematikan.

Keunggulan Manufaktur dan Skala Produksi

Produksi Massal Drone Murah

Salah satu keunggulan utama China dalam perlombaan drone swarm adalah kapasitas manufakturnya. Industri China mampu memproduksi lebih dari satu juta drone murah setiap tahun, sebuah angka yang jauh melampaui kemampuan Amerika Serikat dan sekutunya.

Sebaliknya, AS dengan rantai pasok teknologi yang lebih kompleks dan mahal, hanya mampu memproduksi puluhan ribu drone dengan biaya yang jauh lebih tinggi. Ketimpangan ini memberikan keuntungan strategis besar bagi China dalam skenario perang berbasis kuantitas dan saturasi target.

Baca Juga  Ekspansi PLTU Captive Melaju Pesat, Hilirisasi Ubah Arah Sistem Kelistrikan Nasional

Demonstrasi Kekuatan Swarm

Media pemerintah China pada 2024 memamerkan sistem Swarm 1, sebuah peluncur berbasis truk yang mampu menembakkan hingga 48 drone sayap tetap sekaligus. Bahkan disebutkan bahwa beberapa truk dapat meluncurkan hingga 200 drone yang kemudian terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil untuk menjalankan misi terkoordinasi, mulai dari pengintaian, serangan, hingga penipuan taktis.

Selain itu, drone induk Jiutian yang dirancang membawa dan melepaskan swarm drone kecil juga telah menyelesaikan uji terbang perdana pada Desember 2025. PLA juga memamerkan “serigala robot”—versi bersenjata dari robot anjing—dalam parade militer September 2025.

Mengapa AI Menarik bagi PLA?

Minim Pengalaman Tempur Manusia

Kecerdasan swarm juga dipandang sebagai solusi atas kekhawatiran lama PLA terkait minimnya pengalaman tempur prajurit dan komandan lapangan, mengingat China terakhir kali terlibat perang besar pada akhir 1970-an. Dalam konteks ini, sistem otonom dianggap mampu bekerja lebih konsisten dibanding manusia di level taktis.

Baca Juga  Prabowo dan Danantara Bahas Proyek Hilirisasi dan Energi Hijau Nasional

Sunny Cheung, pakar intelijen sumber terbuka dari Jamestown Foundation, menyebut terdapat konsensus yang berkembang di kalangan penulis militer China bahwa sistem otonom berpotensi mengungguli manusia dalam situasi tertentu.

Risiko dan Tantangan Etis

Namun, pendekatan ini tidak bebas risiko. Kegagalan teknologi, gangguan komunikasi, hingga keputusan mematikan yang diambil AI di luar kendali manusia menjadi kekhawatiran serius. Kementerian Pertahanan China sendiri tidak memberikan komentar resmi terkait pengembangan ini.

Pelajaran dari Perang Ukraina

Pentingnya Otonomi Penuh

Dalam perang Ukraina, gangguan sinyal kerap membuat drone sulit dikendalikan dari jarak jauh. Pengalaman ini memperkuat keyakinan PLA bahwa drone masa depan harus mampu bertindak mandiri tanpa bergantung pada komunikasi terus-menerus.

Baca Juga  Samsung Tampilkan Startup Binaan C-Lab di CES 2026

Hal serupa juga dipelajari militer negara lain, meski penerapan AI canggih dalam pertempuran nyata masih terbatas dan banyak dilakukan secara tertutup.

Perlombaan Paten dan Ketertinggalan AS

Lonjakan Paten China

Sejak awal 2022, kontraktor pertahanan dan institusi terkait militer China menerbitkan sedikitnya 930 paten terkait kecerdasan swarm. Dalam periode yang sama, hanya sekitar 60 paten serupa dipublikasikan di AS, sebagian di antaranya bahkan diajukan oleh entitas China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *