Pengalaman perang Ukraina memperkuat keyakinan tersebut. Di konflik itu, drone terbukti menjadi elemen krusial, baik sebagai alat pengintaian, senjata serangan presisi, maupun drone bunuh diri yang relatif murah namun mematikan.
Keunggulan Manufaktur dan Skala Produksi
Produksi Massal Drone Murah
Salah satu keunggulan utama China dalam perlombaan drone swarm adalah kapasitas manufakturnya. Industri China mampu memproduksi lebih dari satu juta drone murah setiap tahun, sebuah angka yang jauh melampaui kemampuan Amerika Serikat dan sekutunya.
Sebaliknya, AS dengan rantai pasok teknologi yang lebih kompleks dan mahal, hanya mampu memproduksi puluhan ribu drone dengan biaya yang jauh lebih tinggi. Ketimpangan ini memberikan keuntungan strategis besar bagi China dalam skenario perang berbasis kuantitas dan saturasi target.
Demonstrasi Kekuatan Swarm
Media pemerintah China pada 2024 memamerkan sistem Swarm 1, sebuah peluncur berbasis truk yang mampu menembakkan hingga 48 drone sayap tetap sekaligus. Bahkan disebutkan bahwa beberapa truk dapat meluncurkan hingga 200 drone yang kemudian terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil untuk menjalankan misi terkoordinasi, mulai dari pengintaian, serangan, hingga penipuan taktis.
Selain itu, drone induk Jiutian yang dirancang membawa dan melepaskan swarm drone kecil juga telah menyelesaikan uji terbang perdana pada Desember 2025. PLA juga memamerkan “serigala robot”—versi bersenjata dari robot anjing—dalam parade militer September 2025.
Mengapa AI Menarik bagi PLA?
Minim Pengalaman Tempur Manusia
Kecerdasan swarm juga dipandang sebagai solusi atas kekhawatiran lama PLA terkait minimnya pengalaman tempur prajurit dan komandan lapangan, mengingat China terakhir kali terlibat perang besar pada akhir 1970-an. Dalam konteks ini, sistem otonom dianggap mampu bekerja lebih konsisten dibanding manusia di level taktis.
Sunny Cheung, pakar intelijen sumber terbuka dari Jamestown Foundation, menyebut terdapat konsensus yang berkembang di kalangan penulis militer China bahwa sistem otonom berpotensi mengungguli manusia dalam situasi tertentu.
Risiko dan Tantangan Etis
Namun, pendekatan ini tidak bebas risiko. Kegagalan teknologi, gangguan komunikasi, hingga keputusan mematikan yang diambil AI di luar kendali manusia menjadi kekhawatiran serius. Kementerian Pertahanan China sendiri tidak memberikan komentar resmi terkait pengembangan ini.
Pelajaran dari Perang Ukraina
Pentingnya Otonomi Penuh
Dalam perang Ukraina, gangguan sinyal kerap membuat drone sulit dikendalikan dari jarak jauh. Pengalaman ini memperkuat keyakinan PLA bahwa drone masa depan harus mampu bertindak mandiri tanpa bergantung pada komunikasi terus-menerus.
Hal serupa juga dipelajari militer negara lain, meski penerapan AI canggih dalam pertempuran nyata masih terbatas dan banyak dilakukan secara tertutup.
Perlombaan Paten dan Ketertinggalan AS
Lonjakan Paten China
Sejak awal 2022, kontraktor pertahanan dan institusi terkait militer China menerbitkan sedikitnya 930 paten terkait kecerdasan swarm. Dalam periode yang sama, hanya sekitar 60 paten serupa dipublikasikan di AS, sebagian di antaranya bahkan diajukan oleh entitas China.







