“Ketahanan pangan seharusnya digarap oleh pemuda potensial, bukan justru didominasi aparat. Pertanian modern dan hilirisasi perkebunan bisa memberi nilai tambah ekonomi yang besar,” jelasnya.
Reformasi Pendidikan dan Vokasi
Selain penciptaan lapangan kerja, pembenahan sistem pendidikan menjadi kunci. Kurikulum di perguruan tinggi dan sekolah vokasi perlu lebih adaptif terhadap perkembangan AI.
Bhima menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan musuh. Dengan literasi AI yang memadai, tenaga kerja dapat memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja.
Masuk ke Rantai Industri Teknologi Tinggi
Indonesia juga didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi turut berperan dalam rantai industri teknologi tinggi. Peran sebagai software engineer, pengembang sistem, hingga pencipta model bisnis berbasis AI perlu diperkuat.
“Kalau tidak, kita hanya akan menjadi konsumen. Seperti yang terjadi di banyak startup, SDM terbaik justru direkrut negara lain,” ujar Bhima.
Menyikapi Masa Depan Dunia Kerja
Disrupsi AI bukan fenomena baru dalam sejarah ekonomi. Sejak era internet, banyak pekerjaan hilang, namun pekerjaan baru juga bermunculan. Tantangan Indonesia adalah memastikan jumlah pekerjaan baru lebih besar dibandingkan yang hilang.
Dengan kebijakan yang tepat, dukungan pendidikan, dan kesiapan tenaga kerja, AI tidak harus menjadi ancaman. Justru, teknologi ini dapat menjadi peluang untuk menciptakan struktur ekonomi yang lebih produktif, adaptif, dan berdaya saing di masa depan.








Respon (3)