Selain itu, pekerjaan di bidang digital marketing dan riset pasar juga dinilai rentan, terutama yang masih berada di level semi-skill worker. AI mampu menganalisis data konsumen, menyusun strategi pemasaran, hingga menghasilkan laporan dengan cepat dan biaya minimal.
Kreativitas Tak Lagi Sepenuhnya Aman
Menariknya, pekerjaan yang sebelumnya dianggap aman karena mengandalkan kreativitas juga mulai tersentuh AI. Dengan kemampuan menghasilkan teks, gambar, hingga video, AI kini mampu meniru proses kreatif dasar.
Namun, Bhima menekankan bahwa AI lebih menggantikan aspek teknis dan repetitif dari pekerjaan kreatif, bukan sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan strategis.
Tantangan Dunia Kerja di Era AI
Perubahan Standar Nilai Pekerja
Salah satu perubahan mendasar di era AI adalah bergesernya standar penilaian tenaga kerja. Jika sebelumnya loyalitas dan jam kerja panjang menjadi nilai utama, kini yang lebih dicari adalah dampak nyata dan kemampuan problem solving.
Pekerjaan yang hanya menjalankan tugas sederhana tanpa nilai tambah berisiko lebih cepat tergantikan. Sebaliknya, peran yang membantu pengambilan keputusan, meningkatkan efisiensi tim, dan mengelola kompleksitas justru semakin dibutuhkan.
Ancaman bagi Pekerja Semi-Skill
Bhima menyoroti bahwa pekerja semi-skill berada di posisi paling rentan. Kelompok ini berada di tengah-tengah, tidak sepenuhnya pekerjaan manual, tetapi juga belum masuk kategori high-skill yang sulit diotomatisasi.
Tanpa peningkatan keterampilan, kelompok ini berisiko terpinggirkan dalam persaingan tenaga kerja yang semakin berbasis teknologi.
Peran Pemerintah Menghadapi Disrupsi AI
Menciptakan Lapangan Kerja Baru
Menurut Bhima, pemerintah tidak bisa hanya bersikap reaktif terhadap disrupsi AI. Salah satu langkah krusial adalah menciptakan lapangan kerja baru yang mampu menyerap tenaga kerja terdampak.
Ia menilai sektor ketahanan pangan sebagai salah satu peluang strategis. Dengan pendekatan modern dan berbasis teknologi, sektor ini dapat menjadi ladang kerja baru bagi generasi muda.








Respon (3)