Pekerjaan yang Berpotensi Digantikan AI di Indonesia, Pandangan Ekonom
Info Tekno > Pekerjaan yang berpotensi digantikan AI di Indonesia kembali menjadi perbincangan hangat seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Di media sosial, warganet ramai mendiskusikan masa depan profesi yang selama ini dianggap aman, terutama pekerjaan administratif dan digital yang bersifat repetitif. Diskusi ini mencerminkan kegelisahan nyata di tengah perubahan lanskap dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh otomatisasi.
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang kian mudah diakses melalui berbagai platform, seperti chatbot, generator konten, hingga sistem analitik canggih, membuat banyak orang mulai mempertanyakan keberlanjutan profesi mereka. Tidak lagi sekadar isu global, disrupsi AI kini dirasakan langsung oleh pekerja di Indonesia, baik di sektor formal maupun ekonomi digital.
Karakteristik Pekerjaan yang Rentan Tergantikan AI
Repetitif dan Berbasis Proses Panjang
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menjelaskan bahwa pekerjaan dengan karakteristik tertentu memiliki risiko tinggi tergantikan oleh AI. Salah satu cirinya adalah pekerjaan yang bersifat repetitif dan berulang-ulang.
“Pekerjaan yang sifatnya clerical, administratif, dan berbasis proses panjang sangat mudah disederhanakan oleh AI,” ujar Bhima. Menurutnya, otomatisasi memungkinkan proses yang sebelumnya memakan waktu lama dilakukan dalam hitungan detik dengan tingkat kesalahan yang lebih rendah.
Pekerjaan administratif dasar, entri data, pengelolaan dokumen digital, hingga pengarsipan menjadi contoh nyata bagaimana AI mampu menggantikan peran manusia secara efisien.
Sektor Digital yang Mulai Tertekan
Tidak hanya pekerjaan manual, sektor digital justru menjadi salah satu yang paling cepat terdampak. Bhima menilai profesi seperti content creator, scriptwriter, copywriter, hingga jurnalis digital mulai mengalami tekanan akibat penggunaan AI sebagai alat efisiensi.
“Di media digital, banyak peran yang mulai di-replace, bukan karena tidak dibutuhkan, tetapi karena perusahaan mencari efisiensi biaya dan kecepatan produksi,” jelasnya.








Respon (3)