Lewati ke konten

Infotekno

Berita penting

Komputasi Kuantum Berpotensi Bobol Enkripsi dalam Hitungan Jam

4 menit baca
Ukuran teks 100%

Komputasi Kuantum Berpotensi Bobol Enkripsi dalam Hitungan Jam

INFO TEKNO> Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memperingatkan bahwa komputasi kuantum berpotensi mempercepat pembobolan enkripsi pelindung data digital, termasuk layanan mobile banking dan internet banking.

Komjen Pol. Albertus Rachmad Wibowo, Wakil Kepala BSSN, menyampaikan peringatan itu di Bali Tech Week (BTW) 2026, Bali, Rabu, 21 Oktober 2026.

Albertus menilai komputasi kuantum sebagai tantangan baru bagi keamanan siber, sebab algoritma kriptografi yang kini melindungi data berpotensi melemah.

“Sekarang kita sudah punya kriptografi, tetapi ketika nanti quantum computing itu hadir, kekuatan kriptografi yang ada saat ini bisa dengan cepat diretas,” ujar Albertus.

Untuk membongkar enkripsi tertentu, komputer klasik memerlukan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan ribuan tahun, jelas Albertus. Komputasi kuantum berpotensi memangkas waktu itu secara drastis.

“Tapi dengan quantum computing, mungkin kita hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja,” papar Albertus.

Jenis enkripsi yang menjadi sasaran dan kemampuan komputer kuantum sama-sama menentukan kecepatan pembobolan.

Menurut Albertus, sejumlah negara berlomba mengembangkan komputasi kuantum, bahkan secara diam-diam, sehingga ancamannya memerlukan antisipasi.

Albertus menerima informasi dari seorang ahli bahwa negara lain berpotensi mengembangkan teknologi itu dengan kapasitas 1.000-2.000 qubit. Qubit merupakan satuan dasar informasi dalam komputasi kuantum.

Risiko juga bisa meningkat bila layanan komputasi kuantum (quantum computing as a service) tersedia komersial dan peretas atau pelaku kejahatan siber ikut memakainya.

“Tidak ada lagi yang secure. Semua bisa diretas,” sebut Albertus.

Albertus juga mengingatkan soal serangan siber dengan metode harvest now, decrypt later. Dalam metode itu, pelaku mengumpulkan data terenkripsi sekarang dan membongkarnya kelak, ketika teknologi yang mereka perlukan sudah tersedia.

Pelaku mencuri data dari sistem sasaran, lalu memindahkannya ke tempat lain lewat proses eksfiltrasi (exfiltration). Mereka menyimpan data itu sampai kemampuan komputasi kuantum cukup untuk mendekripsinya.

“Jadi, mereka harvest sekarang, decrypt later,” lanjut Albertus.

Ancaman itu juga relevan bagi pengguna layanan perbankan digital. Pelaku kejahatan siber berpotensi mengumpulkan data yang pengguna kirim lewat jaringan internet tidak aman.

Meski terenkripsi, data tersebut berisiko terbuka kelak jika komputasi kuantum sudah mampu memecahkan sistem perlindungannya.

Menurut Albertus, upaya antisipasi dengan mengganti kata sandi (password) di setiap transaksi akan merepotkan pengguna.

Ia memberi gambaran, “Satu kali transfer, setelah log out, ganti password. Nanti transfer lagi, ganti password lagi.”

“Itu membutuhkan waktu dan energi yang cukup banyak,” kata Albertus.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.

Sumber: https://infotekno.net/komputasi-kuantum-enkripsi-perbankan-bssn/

· · ·

Berita terkait

Rekomendasi berita

Berita lainnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *