Kebebasan Internet Global Tergerus, Asia Jadi Episentrum Pembatasan Digital
Info Tekno > Kebebasan internet di berbagai belahan dunia menunjukkan kemunduran signifikan sepanjang 2025. Laporan terbaru dari perusahaan keamanan digital Surfshark mengungkap bahwa lebih dari separuh populasi global terdampak sensor dan gangguan akses internet yang diberlakukan oleh pemerintah. Fenomena ini menandai meningkatnya penggunaan pembatasan digital sebagai instrumen kontrol, bahkan di tengah pengakuan global bahwa akses internet merupakan bagian dari hak asasi manusia.
Dalam rekap tahunan Surfshark, tercatat sebanyak 4,6 miliar orang terdampak penutupan atau pembatasan internet sepanjang 2025. Angka tersebut setara dengan lebih dari 50 persen populasi dunia, menjadikan tahun lalu sebagai salah satu periode terburuk dalam sejarah kebebasan digital global.
Lonjakan Pembatasan Internet Sepanjang 2025
Puluhan Gangguan Berlangsung Sejak Awal Tahun
Tahun 2025 dibuka dengan 47 gangguan internet yang masih aktif sejak periode sebelumnya. Sepanjang tahun, otoritas di berbagai negara kembali menambahkan 81 pembatasan baru, baik dalam bentuk pemadaman total, pelambatan jaringan, maupun pemblokiran platform tertentu.
Menurut Luís Costa, Research Lead di Surfshark, tren ini menunjukkan bahwa pembatasan digital tidak lagi bersifat sementara. “Penutupan internet, termasuk sensor jangka panjang dan sistemik, memengaruhi 4,6 miliar orang pada 2025, lebih dari setengah populasi dunia,” ujarnya.
Costa menekankan bahwa perluasan pembatasan ini terjadi justru ketika internet semakin diakui sebagai infrastruktur esensial bagi pendidikan, ekonomi, hingga keselamatan publik.
Asia Jadi Kawasan Paling Terdampak
India hingga Afghanistan Catat Pembatasan Tinggi
Asia tercatat sebagai kawasan dengan pembatasan internet terbanyak sepanjang 2025. Surfshark mencatat sedikitnya 56 pembatasan baru di 10 negara Asia, yang berdampak pada sekitar 2 miliar penduduk.








Respon (3)