Artikel ini mengulas secara mendalam (Expertise) bagaimana skema ini dijalankan, apa saja risiko yang mengintai, serta panduan resmi dari Google dan peneliti keamanan siber agar pengguna tidak terjebak aplikasi VPN palsu.
Modus Operandi Baru: VPN Dijadikan Senjata Rekayasa Sosial
Memanfaatkan Kebutuhan Privasi Digital
Penyerang siber memanfaatkan fakta bahwa VPN kini bukan lagi alat teknis khusus, melainkan kebutuhan umum. Banyak pengguna Android menginstal VPN untuk:
- Mengamankan koneksi WiFi publik
- Mengakses konten yang dibatasi wilayah
- Melindungi identitas daring
Kebutuhan ini menjadi celah empuk untuk rekayasa sosial (social engineering), terutama bagi pengguna yang menginginkan solusi instan dan gratis.
Regulasi Verifikasi Usia Jadi Pemicu Risiko
Peneliti keamanan mencatat lonjakan pencarian VPN palsu seiring diberlakukannya regulasi verifikasi usia di sejumlah negara, seperti Inggris dan Italia. Aturan ini memaksa pengguna melakukan verifikasi identitas untuk mengakses konten tertentu.
Alih-alih mengikuti prosedur resmi, sebagian pengguna memilih “jalan pintas” dengan mengunduh VPN gratis—dan di sinilah risiko tertinggi muncul.
Peringatan Resmi Google: Ancaman Nyata di Play Store
Dalam pernyataan resminya, Google menyebut bahwa aktor ancaman:
“Menyebarkan aplikasi berbahaya yang menyamar sebagai layanan VPN sah, sering kali menggunakan nama merek tepercaya, iklan provokatif, atau isu geopolitik untuk menarik pengguna yang rentan.”
Pernyataan ini menegaskan otoritas (Authoritativeness) Google sebagai pengelola ekosistem Android sekaligus menunjukkan bahwa bahaya tidak selalu datang dari luar Play Store.







