Google Ungkap Jaringan Proxy Global Asal China, Jutaan Perangkat Android Terekspos

Google membongkar jaringan proxy raksasa asal China milik IPIDEA yang mengeksploitasi jutaan ponsel Android melalui aplikasi populer tanpa sepengetahuan pengguna.

Google membongkar jaringan proxy China yang menjadikan jutaan Android korban
Google membongkar jaringan proxy China yang menjadikan jutaan Android korban

Namun, dalam praktiknya, proxy residensial sering disalahgunakan untuk:

  • Menyembunyikan identitas pelaku kejahatan siber
  • Menghindari sistem deteksi keamanan
  • Melakukan scraping data skala besar
  • Menjalankan serangan siber terdistribusi

Dalam kasus yang dibongkar Google, proxy residensial digunakan dengan cara menyusup ke perangkat pribadi pengguna dan menjadikannya “exit node” lalu lintas data pihak ketiga.

IPIDEA Disebut Sebagai Operator Utama

Google mengaitkan jaringan ini dengan perusahaan asal China bernama IPIDEA. Perusahaan tersebut diketahui menyediakan layanan proxy global berbasis perangkat pengguna. Masalahnya, jutaan pengguna tidak pernah menyadari bahwa perangkat mereka telah menjadi bagian dari jaringan tersebut.

SDK Tersembunyi di Balik Aplikasi Populer

Modus Operasi yang Sulit Dideteksi

Salah satu alasan utama jaringan proxy IPIDEA sulit terdeteksi adalah karena tidak menggunakan malware konvensional. Tidak ada virus, ransomware, atau trojan dalam pengertian tradisional.

Baca Juga  Perkembangan AI dan Computer Vision di Indonesia Melesat, Ini Dampaknya ke Industri

Sebaliknya, IPIDEA memanfaatkan Software Development Kit (SDK) yang disisipkan ke dalam:

  • Game gratis
  • Aplikasi utilitas
  • Tools produktivitas
  • Program desktop lintas platform

SDK tersebut tampak seperti modul pendukung biasa, tetapi memiliki kemampuan tersembunyi untuk:

  • Mengalihkan lalu lintas internet
  • Mengizinkan pihak ketiga menggunakan koneksi pengguna
  • Mengoperasikan proxy tanpa interaksi pengguna

Karena SDK ini hanya memanfaatkan izin standar Android, sistem keamanan awal tidak langsung menandainya sebagai ancaman.

Skala Penyebaran yang Masif

Google mengungkap telah menemukan:

  • Lebih dari 600 aplikasi yang mengandung SDK IPIDEA
  • Lebih dari 9 juta perangkat Android aktif terhubung pada puncak operasinya
  • Aktivitas tersebar di berbagai negara, tidak hanya di Asia

Lonjakan lalu lintas data dari alamat IP residensial inilah yang akhirnya memicu kecurigaan tim keamanan Google.

Baca Juga  Sergey Brin Akui Google Glass Gagal, Terlalu Percaya Diri Merasa Selevel Steve Jobs

Intervensi Google dan Langkah Hukum Federal AS

Penutupan Infrastruktur Global

Setelah mengumpulkan bukti teknis dan pola lalu lintas yang mencurigakan, Google mengambil langkah tegas dengan:

  • Mengajukan permohonan ke pengadilan federal Amerika Serikat
  • Menutup domain utama dan subdomain terkait
  • Mematikan infrastruktur backend lintas benua

Langkah ini dilakukan secara terkoordinasi, sehingga jaringan proxy IPIDEA berhenti beroperasi secara total dalam waktu singkat.

Peran Play Protect

Sebagai tindak lanjut, Google juga memperbarui sistem Play Protect, sehingga:

  • SDK IPIDEA dapat terdeteksi secara otomatis
  • Aplikasi yang mengandung library tersebut diblokir
  • Pengguna mendapatkan perlindungan tambahan

Namun, Google menegaskan bahwa perangkat yang menginstal aplikasi dari toko pihak ketiga atau sumber tidak resmi masih berisiko tinggi.

Baca Juga  MacBook Pro M5 14 Inch Resmi Masuk Indonesia, Cek Spesifikasi dan Harganya

Dari Proxy ke Botnet: Ancaman Berlapis

Insiden Kimwolf pada 2025

Masalah tidak berhenti pada penyalahgunaan proxy. Pada tahun 2025, jaringan IPIDEA dilaporkan diretas oleh pihak lain. Infrastruktur yang sudah terbentuk kemudian dimanfaatkan untuk membangun botnet bernama Kimwolf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *