Sebagian besar listrik dari PLTU captive tersebut dialokasikan langsung untuk mendukung industri strategis padat energi, terutama smelter nikel. Kawasan seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara menjadi pusat pertumbuhan karena menjadi lokasi utama proyek hilirisasi nikel berskala besar. Dalam konteks ini, PLTU captive dipilih karena mampu menyediakan pasokan listrik yang stabil, terkontrol, dan tidak bergantung pada kapasitas jaringan publik yang kerap terbatas.
Jaringan PLN dan IPP Kian Tertinggal
Di sisi lain, penambahan kapasitas pembangkit yang masuk ke jaringan listrik nasional justru relatif kecil. Sepanjang periode yang sama, kapasitas baru yang terhubung ke jaringan publik hanya sekitar 965 megawatt (MW). Jumlah ini jauh di bawah proyeksi 3,25 GW yang sebelumnya ditargetkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara perencanaan dan realisasi pembangunan pembangkit untuk kepentingan publik. Dari seluruh pembangkit yang terhubung ke jaringan nasional, hanya satu proyek IPP yang tercatat masuk, yakni PLTU Sumsel-1 Unit 1 di Sumatra Selatan dengan kapasitas 350 MW. Selebihnya merupakan pembangkit yang dikelola langsung oleh PLN.
Daftar PLTU yang Masuk Jaringan Nasional
Beberapa PLTU yang dikelola PLN dan mulai beroperasi dalam periode tersebut antara lain:
- PLTU Asam-Asam Unit 5 (100 MW) di Kalimantan Selatan
- PLTU Banten Lontar Unit 4 (315 MW) di Banten
- PLTU Timor-1 Unit 1 dan 2 (masing-masing 50 MW) di Nusa Tenggara Timur
- PLTU Barru Fase II Unit 1 (100 MW) di Sulawesi Selatan
Jika dibandingkan dengan masifnya pembangunan PLTU captive, kontribusi pembangkit ini terlihat semakin terbatas. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai stagnasi penguatan jaringan listrik nasional, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor non-industri.
Konsistensi dan Skala Pertumbuhan PLTU Captive
Menurut laporan Global Coal Plant Tracker, penambahan kapasitas PLTU captive berlangsung jauh lebih konsisten dibandingkan pembangkit yang terhubung ke jaringan nasional. Dari total 4,49 GW PLTU captive yang tercatat operasional, sekitar 1,53 GW berasal dari pembaruan Commercial Operation Date (COD) secara retroaktif, yang menunjukkan bahwa beberapa pembangkit sebenarnya telah beroperasi sebelum 2024 namun baru tercatat secara resmi.
Pembangkit yang termasuk dalam kategori ini antara lain PLTU Sulawesi Labota Unit 1, 2, dan 3 dengan total kapasitas 1,08 GW, serta PLTU milik PT Halmahera Persada Lygend Nickel Smelter Fase II Unit 1, 4, dan 5 dengan kapasitas gabungan 450 MW.







