InterDigital sendiri diketahui tengah mengejar gugatan paten serupa terhadap Disney di Pengadilan Distrik Pusat California. Langkah Disney menghapus informasi Dolby Vision di AS dinilai sebagai upaya antisipatif jika sengketa hukum tersebut berujung pada putusan serupa.
Bukan pertama kali industri streaming tersandung paten
Kasus ini menambah daftar panjang konflik paten di industri teknologi dan streaming. Di tengah persaingan ketat, perusahaan besar kerap dihadapkan pada biaya lisensi dan risiko hukum yang kompleks. Namun, ketika dampaknya langsung dirasakan konsumen, reputasi dan kepercayaan publik menjadi taruhannya.
Disney Tetap Inovatif, Tapi Fitur Inti Justru Mundur
Kontras dengan ekspansi teknologi lain
Ironisnya, di saat fitur Dolby Vision menghilang, Disney justru tengah gencar mengembangkan inovasi lain seperti pengalaman streaming berbasis VR dan konten imersif lintas platform. Namun, bagi banyak pelanggan, inovasi tersebut terasa kurang relevan jika kualitas dasar visual justru mengalami kemunduran.
Kesimpulan: Transparansi Jadi Kunci
Pelanggan menanti kejelasan nasib Dolby Vision Disney+
Hilangnya Dolby Vision Disney+ di Eropa menjadi pengingat bahwa layanan digital modern tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada dinamika hukum global. Jika benar disebabkan sengketa paten, maka solusi jangka panjang tidak akan instan dan memerlukan negosiasi lisensi atau perubahan sistem yang kompleks.
Bagi pelanggan, yang paling dibutuhkan saat ini adalah transparansi. Kejelasan soal apakah Dolby Vision akan kembali, kapan, dan di wilayah mana, menjadi krusial agar konsumen dapat mengambil keputusan yang adil terhadap layanan yang mereka bayar.
Hingga ada kepastian, polemik Dolby Vision Disney+ masih akan terus menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta film, penggemar teknologi, dan industri streaming global.







