Benarkah Internet Global Bisa Mati Total? Ini Analisis Pakar dan Fakta di Baliknya

Internet global disebut sulit padam total karena desainnya yang terdistribusi. Simak penjelasan pakar soal risiko, skenario terburuk, dan ketahanan jaringan dunia.

Internet global kerap menjadi topik perbincangan ketika terjadi gangguan layanan digital berskala besar, mulai dari media sosial yang tidak bisa diakses hingga sistem pembayaran yang lumpuh sementara.
Internet global kerap menjadi topik perbincangan ketika terjadi gangguan layanan digital berskala besar, mulai dari media sosial yang tidak bisa diakses hingga sistem pembayaran yang lumpuh sementara.

Benarkah Internet Global Bisa Mati Total? Ini Analisis Pakar dan Fakta di Baliknya

Info Tekno> Internet global kerap menjadi topik perbincangan ketika terjadi gangguan layanan digital berskala besar, mulai dari media sosial yang tidak bisa diakses hingga sistem pembayaran yang lumpuh sementara. Di tengah ketergantungan masyarakat modern terhadap konektivitas digital, muncul pertanyaan besar yang cukup mengkhawatirkan: apakah internet dunia benar-benar bisa padam total dan berhenti berfungsi secara bersamaan?

Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Internet kini menjadi tulang punggung hampir seluruh aktivitas manusia modern. Komunikasi lintas negara, transaksi keuangan, layanan kesehatan, transportasi, hingga sistem pemerintahan sangat bergantung pada koneksi internet yang stabil. Ketika terjadi gangguan besar, dampaknya langsung terasa luas, bahkan hanya dalam hitungan menit.

Baca Juga  Peta Baru Pasar Smartphone Global: Dominasi Premium Tekan Vendor China

Namun, di balik kekhawatiran tersebut, para pakar teknologi jaringan menilai bahwa skenario pemadaman internet global secara total merupakan sesuatu yang sangat sulit terjadi. Meski demikian, bukan berarti internet sepenuhnya kebal terhadap gangguan. Ada berbagai faktor risiko yang tetap perlu dipahami oleh publik.

Internet Global dan Tingkat Kerentanannya

Jaringan Raksasa yang Tampak Kokoh, Namun Tidak Sempurna

Jika dilihat dari permukaan, internet global tampak seperti satu sistem besar yang terhubung secara menyeluruh. Padahal, pada kenyataannya internet merupakan kumpulan dari jutaan jaringan kecil yang saling terhubung, dimiliki oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan telekomunikasi, hingga penyedia layanan cloud swasta.

Mengutip laporan dan kajian dari berbagai lembaga riset teknologi, internet global memang memiliki sejumlah titik lemah yang jarang disadari masyarakat umum. Ancaman tersebut tidak selalu berasal dari satu sumber tunggal, melainkan kombinasi berbagai faktor yang dapat saling memperkuat dampaknya.

Baca Juga  Kebebasan Internet Global Tergerus, Asia Jadi Episentrum Pembatasan Digital

Ancaman Siber dan Konflik Geopolitik

Salah satu risiko yang paling sering dibahas adalah serangan siber berskala besar. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia telah menyaksikan peningkatan serangan siber yang menargetkan infrastruktur vital, termasuk pusat data, kabel bawah laut, dan sistem domain name system (DNS).

Selain itu, konflik geopolitik juga dinilai berpotensi memicu gangguan konektivitas. Beberapa negara diketahui memiliki kemampuan untuk membatasi atau memutus akses internet di wilayahnya sendiri. Namun, tindakan tersebut umumnya bersifat regional dan tidak berdampak langsung pada keseluruhan jaringan internet global.

Fenomena Alam Ekstrem sebagai Faktor Risiko

Di luar ancaman buatan manusia, fenomena alam ekstrem seperti badai matahari juga sering disebut sebagai salah satu skenario terburuk. Badai matahari besar berpotensi mengganggu satelit komunikasi, jaringan listrik, dan sistem navigasi global. Meski terdengar mengkhawatirkan, para ilmuwan menilai dampak tersebut masih bisa dikelola dengan mitigasi yang tepat.

Baca Juga  Daftar Negara dengan Internet Tercepat 2025, Siapa Paling Unggul?

Mengapa Internet Global Sangat Sulit Padam Total?

Desain Terdistribusi Sejak Awal

Menurut George Cybenko, profesor teknik dari Dartmouth College, internet sejak awal memang dirancang sebagai jaringan yang sangat terdistribusi. Konsep ini dikembangkan pada masa Perang Dingin, dengan tujuan agar sistem komunikasi tetap berjalan meskipun sebagian jaringan mengalami kerusakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *