INFO TEKNO> Beberapa chatbot AI kini membawa watermark tak terlihat pada teks buatannya. Anthropic sudah menerapkannya di Claude, sedangkan OpenAI bersiap menyusul di ChatGPT dan Codex.
Teks yang pengguna salin dari chatbot tersebut berpotensi membawa kode yang tidak tampak di layar. Kode itu berfungsi mengenali tulisan yang berasal dari produk AI.
Watermark itu muncul di tengah kewajiban baru dari Uni Eropa.
Undang-undang AI Uni Eropa mewajibkan teks buatan AI memiliki identifikasi khusus. Salah satu caranya dengan menyisipkan tanda air ke dalam teks.
Identifikasi itu bekerja sebagai penanda asal tulisan. Langkah Anthropic dan OpenAI sejalan dengan kewajiban tersebut.
Anthropic telah menerapkan fitur ini pada Claude sejak awal tahun ini. Cakupannya tidak terbatas untuk Eropa.
Anthropic meluncurkan fitur itu juga secara global. Pengguna Claude di mana pun berpotensi menghasilkan teks bertanda air.
OpenAI membuat keputusan yang sama untuk ChatGPT dan Codex. Namun, jangkauannya berbeda dengan Anthropic.
ChatGPT dan Codex hanya menyediakan watermark tak terlihat bagi pengguna yang tinggal di Uni Eropa. Pengguna di luar kawasan itu tidak mendapat tanda air tersebut.
Perbedaan cakupan ini membuat dua chatbot itu berstatus berbeda di luar Eropa. Teks Claude bertanda air, sedangkan teks ChatGPT dan Codex tidak.
“Dalam beberapa minggu ke depan, kami menambahkan tanda air tidak terlihat dari teks ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di Uni Eropa,” kata OpenAI dalam pengumumannya awal Oktober 2026.
Pernyataan itu menyebut jadwal beberapa minggu ke depan. Artinya, penambahan watermark pada ChatGPT dan Codex belum berjalan penuh saat OpenAI mengumumkannya.
Pengumuman itu juga menyebut teks yang memenuhi syarat di Uni Eropa. Artinya, tidak semua keluaran ChatGPT dan Codex otomatis masuk cakupan watermark.
Kutipan OpenAI tidak memuat tanggal pasti kapan fitur itu aktif.
Anthropic bergerak lebih dulu. Claude sudah membawa fitur ini sejak awal tahun, sedangkan OpenAI baru mengumumkan penambahannya pada awal Oktober.
Pengguna di Uni Eropa menjadi kelompok yang paling pasti terdampak. Mereka berpotensi memakai Claude, ChatGPT, dan Codex dengan teks bertanda air.
OpenAI menggunakan sistem bernama textGrain untuk menghasilkan identitas itu. Sistem tersebut menambahkan sinyal statistik tidak terlihat pada pilihan yang dihasilkan model AI.
Sinyal itu tidak tampak oleh pembaca. Wujudnya statistik, bukan karakter yang bisa dilihat.
Pendekatan statistik berarti tanda air tidak mengubah tampilan teks di layar. Pembaca tetap melihat tulisan biasa.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.
Sumber: https://infotekno.net/watermark-tak-terlihat-teks-ai-claude-chatgpt-uni-eropa/

