INFO TEKNO> Canva resmi meluncurkan Canva AI 2.0, pembaruan arsitektur terbesar sejak platform ini pertama kali membawa desain grafis dari perangkat lunak desktop ke browser. Versi baru ini mengubah Canva menjadi platform percakapan dan berbasis agen — memungkinkan tim bergerak dari ide mentah hingga eksekusi penuh dalam satu tempat.
Lima Lapis Fitur Inti Canva AI 2.0
Desain Percakapan dan Orkestrasi Agen
Canva AI 2.0 memperkenalkan Desain Percakapan, yang memungkinkan pengguna mendeskripsikan ide, tujuan, atau bahkan struktur kasar dalam bahasa alami — dan secara otomatis menghasilkan desain yang sudah terstruktur, bermerek, dan dapat diedit sepenuhnya. Berbeda dari alat AI konvensional yang berhenti setelah satu output, Canva AI 2.0 mempertahankan konteks saat ide berkembang, mendampingi proses brainstorming hingga iterasi akhir.
Di balik mekanisme ini terdapat lapisan Agentic Orchestration yang menyatukan seluruh rangkaian alat Canva. Pengguna cukup memberikan arahan seperti “buat rencana kampanye multi-saluran untuk meluncurkan produk musim panas terbaru kami,” dan sistem akan menghasilkan semua aset yang dibutuhkan secara otomatis — siap disempurnakan atau langsung dipublikasikan.
Kecerdasan Berbasis Objek dan Memori Persisten
Object-Based Intelligence memungkinkan pengeditan presisi tanpa harus mengulang dari awal. Saat pengguna meminta perubahan pada satu elemen — gambar, judul, atau font — hanya elemen tersebut yang berubah. Semua konten yang dihasilkan tetap berlapis dan dapat diedit seperti karya yang dibuat manual di editor.
Fitur Living Memory menjadikan Canva AI semakin personal dari waktu ke waktu. Sistem ini menyimpan cara kerja pengguna, preferensi merek, serta gaya desain tim secara otomatis — dan terus berkembang semakin akurat di setiap sesi penggunaan.
Sheets AI: Spreadsheet Berisi Data Riil
Canva AI 2.0 juga menghadirkan Sheets AI, yang mampu menghasilkan spreadsheet terstruktur lengkap dari deskripsi sederhana. Mulai dari pelacak anggaran, jadwal proyek, kalender konten, hingga tabel riset — semuanya hadir dengan desain yang menarik dan diisi data nyata, bukan sekadar templat kosong.
Alur Kerja Baru: Konektor, Penjadwalan, dan Riset Web
Canva AI 2.0 memperkenalkan ekosistem alur kerja yang lebih luas melalui tiga kapabilitas tambahan.
Konektor memungkinkan integrasi dengan Slack, Gmail, Google Drive, Google Kalender, Notion, Zoom, dan HubSpot. Dengan koneksi ini, pengguna bisa menghasilkan ringkasan rapat dari transkrip Zoom, mengubah email pelanggan menjadi penawaran penjualan yang dipersonalisasi, atau membuat buletin perusahaan berdasarkan aktivitas di Slack — semua dari dalam Canva.
Penjadwalan memungkinkan tugas-tugas dijalankan secara otomatis di latar belakang, bahkan saat pengguna sedang offline. Misalnya, Canva AI dapat menghasilkan konten media sosial setiap Jumat, disesuaikan per saluran dan diterjemahkan ke sepuluh bahasa utama secara otomatis.
Riset Web mengumpulkan dan menyusun informasi dari seluruh internet, lalu menyajikannya langsung ke dalam desain sebagai konten terstruktur yang siap diedit — berguna untuk kebutuhan proposal bisnis hingga eksplorasi pasar.
Canva Code 2.0 dan Akses Pratinjau
Untuk pengguna teknis, Canva Code 2.0 kini hadir dengan fitur impor HTML. Pengguna dapat memasukkan file HTML atau pengalaman yang dihasilkan AI ke dalam Canva dan mengeditnya secara visual — tanpa perlu membangun ulang kode dari nol. Pengalaman interaktif yang dibuat bisa disematkan ke presentasi, dihubungkan ke Canva Sheets, atau dipublikasikan ke domain sendiri dengan perlindungan SSO.
Mulai 16 April, Canva AI juga meluncurkan pratinjau fitur riset untuk satu juta pengguna pertama yang menemukannya di halaman beranda Canva, dengan akses yang akan diperluas secara bertahap ke lebih banyak pengguna dalam beberapa minggu ke depan.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.






