Pendapatan Huawei 2025 Naik Tipis 2,2 Persen, Pemulihan Berlanjut di Tengah Tekanan Sanksi AS
Info Tekno> Pendapatan Huawei 2025 tercatat naik tipis sebesar 2,2 persen menjadi sekitar 881 miliar yuan atau setara 128 miliar dolar AS, menurut pernyataan resmi pimpinan perusahaan pada Selasa waktu setempat. Kenaikan ini menandai kelanjutan pemulihan Huawei Technologies setelah enam tahun menghadapi tekanan berat akibat sanksi Amerika Serikat yang menghantam bisnis intinya, terutama sektor smartphone dan semikonduktor.
Angka terbaru tersebut disampaikan oleh Ketua Huawei, Liang Hua, dalam sebuah acara perusahaan. Meski menunjukkan tren positif dibandingkan tahun sebelumnya, capaian itu masih sedikit di bawah rekor 891 miliar yuan yang dicatat Huawei pada 2020—tahun pertama setelah sanksi besar dari AS mulai diberlakukan.
Kinerja Pendapatan Huawei 2025: Apa yang Terjadi?
Kenaikan pendapatan sebesar 2,2 persen dari 862 miliar yuan pada 2023 menjadi 881 miliar yuan pada 2025 menunjukkan stabilisasi bisnis Huawei di tengah dinamika geopolitik dan persaingan teknologi global.
Perbandingan dengan Tahun-Tahun Sebelumnya
Untuk memahami konteksnya, Huawei sempat mengalami penurunan pendapatan hingga 29 persen pada 2021. Penurunan tersebut merupakan dampak langsung dari pembatasan akses terhadap teknologi Amerika Serikat, termasuk larangan penggunaan chip Qualcomm dan sistem operasi Google untuk perangkat smartphone.
Sejak itu, perusahaan perlahan bangkit. Pada 2024, Huawei membukukan lonjakan pendapatan sebesar 22 persen, sebelum kembali tumbuh moderat pada 2025.
Meskipun belum kembali ke rekor tertinggi 2020, tren ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi dan inovasi internal mulai memberikan hasil.
Bagaimana dengan Laba Huawei 2025?
Meski pendapatan meningkat, Huawei tidak mengungkapkan angka laba bersih untuk 2025 dalam pernyataan terbarunya. Namun, data laba tahun sebelumnya memberikan gambaran tekanan yang masih dihadapi perusahaan.
Penurunan Laba dan Margin Operasi
Pada 2024, laba Huawei tercatat sebesar 62,2 miliar yuan, turun 28 persen dibandingkan 87 miliar yuan pada tahun sebelumnya. Margin operasi juga menyusut menjadi 9,2 persen dari 14,8 persen.
Penurunan margin ini mencerminkan meningkatnya biaya riset dan pengembangan (R&D), investasi teknologi mandiri, serta tekanan harga di pasar global.
Analis menilai bahwa strategi jangka panjang Huawei berfokus pada kemandirian teknologi, meskipun dalam jangka pendek berdampak pada profitabilitas.
Dampak Sanksi AS terhadap Huawei
Sanksi Amerika Serikat sejak 2019 menjadi faktor utama yang membentuk ulang strategi Huawei.
Pembatasan Akses Teknologi
Huawei dilarang menggunakan chip dan komponen penting dari perusahaan AS, termasuk Qualcomm. Selain itu, perangkat smartphone Huawei tidak lagi dapat mengakses layanan Google, termasuk Google Play dan aplikasi pendukung lainnya.







