Di Garis Depan Kejahatan Siber: Afrika Hadapi Gelombang Serangan AI dan Ransomware
Info Tekno> Di garis depan kejahatan siber, negara-negara Afrika kini menghadapi lonjakan serangan digital yang masif seiring pertumbuhan populasi daring dan lemahnya infrastruktur pertahanan siber di sejumlah kawasan. Kondisi tersebut menempatkan Afrika bukan hanya sebagai target empuk, tetapi juga sebagai laboratorium global dalam menghadapi ancaman siber generasi baru berbasis kecerdasan buatan (AI).
Laporan terbaru dari Interpol bertajuk African Cyberthreat Assessment Report 2025 mengungkap bahwa sedikitnya 30 persen dari seluruh kejahatan yang dilaporkan di Afrika Barat dan Afrika Timur berkaitan dengan kejahatan siber. Angka tersebut mencerminkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Serangan siber di Afrika tidak hanya menyasar sektor keuangan, tetapi juga utilitas publik, industri minyak, perbankan, hingga usaha kecil dan menengah (UKM). Beberapa negara seperti Ethiopia, Nigeria, Sudan Selatan, dan Mesir tercatat mengalami intensitas serangan tertinggi sepanjang 2025.
Mengapa Afrika Menjadi Target Utama Serangan Siber?
Pertumbuhan Populasi Daring dan Infrastruktur Lemah
Secara demografis, Afrika mengalami pertumbuhan pengguna internet tercepat di dunia. Namun, ekspansi digital tersebut tidak selalu diiringi penguatan sistem keamanan siber yang memadai. Ketimpangan ini menciptakan celah keamanan yang dimanfaatkan kelompok peretas.
Kerissa Varma, Kepala Penasihat Keamanan Microsoft untuk Afrika, menilai kondisi tersebut justru membuka peluang strategis.
“Afrika memiliki peluang unik untuk memimpin dalam memerangi ancaman baru, membantu membentuk masa depan pertahanan siber,” tulis Varma dalam analisisnya.
Menurutnya, posisi Afrika sebagai wilayah yang kerap menjadi target serangan membuat benua tersebut berperan sebagai sistem peringatan dini global terhadap taktik kejahatan digital terbaru.
Negara Mana yang Paling Terdampak?
Ethiopia, Nigeria, dan Sudan Selatan Catat Serangan Tertinggi
Sepanjang 2025, Ethiopia, Nigeria, dan Sudan Selatan dilaporkan menerima ratusan ribu upaya serangan siber setiap hari. Sudan Selatan, dengan jejak internet yang berkembang pesat, menjadi magnet bagi peretas yang mengincar sektor minyak dan perbankan.






