Ekspansi PLTU Captive dan Perubahan Wajah Kelistrikan Indonesia
Info Tekno> PLTU captive menjadi penanda utama perubahan besar dalam lanskap ketenagalistrikan Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, penambahan kapasitas pembangkit listrik nasional tidak lagi didominasi oleh jaringan publik milik PT PLN (Persero) maupun skema Independent Power Producer (IPP). Sebaliknya, pembangkit listrik tenaga uap yang beroperasi di luar jaringan nasional atau dikenal sebagai PLTU captive justru tumbuh jauh lebih cepat, terutama untuk memenuhi kebutuhan energi industri padat energi yang berkembang seiring program hilirisasi pemerintah.
Fenomena ini menandai pergeseran struktural yang signifikan. Jika sebelumnya penguatan sistem kelistrikan nasional menjadi fokus utama, kini pembangunan pembangkit lebih terkonsentrasi pada penyediaan listrik langsung bagi kawasan industri, khususnya industri pengolahan mineral seperti nikel. Dampaknya bukan hanya pada arah investasi energi, tetapi juga pada ketahanan sistem listrik nasional, perencanaan energi jangka panjang, serta komitmen transisi energi Indonesia.
Hilirisasi sebagai Motor Utama Pertumbuhan PLTU Captive
Program hilirisasi industri yang dicanangkan pemerintah menjadi pemicu utama lonjakan PLTU captive. Kebijakan ini mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri agar memiliki nilai tambah lebih tinggi sebelum diekspor. Namun, di balik ambisi tersebut, kebutuhan energi dalam jumlah besar dan stabil menjadi syarat mutlak agar industri pengolahan dapat beroperasi optimal.
Data yang dihimpun Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) bersama Global Energy Monitor (GEM) menunjukkan bahwa dalam periode Juli 2024 hingga Juli 2025, total penambahan kapasitas PLTU batu bara di Indonesia mencapai sekitar 5,4 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, sebanyak 4,49 GW atau lebih dari 80 persen merupakan PLTU captive. Angka ini memperlihatkan betapa dominannya pembangkit luar jaringan dalam ekspansi energi berbasis batu bara saat ini.







