Berita  

17,5 Juta Akun Instagram Diduga Bocor, Pengguna Terima Reset Massal

Kebocoran data 17,5 juta akun Instagram diduga terkait insiden lama di dark web. Pengguna di seluruh dunia menerima notifikasi reset password massal. Apa yang sebenarnya terjadi?

17,5 Juta Akun Instagram Diduga Bocor, Pengguna Terima Reset Massal
17,5 Juta Akun Instagram Diduga Bocor, Pengguna Terima Reset Massal

Kebocoran Data Instagram Picu Gelombang Reset Password Global

Info Tekno > Insiden keamanan siber kembali mengguncang dunia media sosial. Kali ini, sekitar 17,5 juta akun Instagram diduga menjadi korban kebocoran data besar-besaran yang memicu notifikasi reset password massal di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Informasi ini pertama kali diungkap oleh perusahaan keamanan siber Malwarebytes dalam laporan resminya pada awal Januari 2026. Mereka mendeteksi adanya penjualan data pengguna Instagram di dark web, mencakup nama lengkap, alamat email, nomor telepon, dan bahkan sebagian data lokasi fisik pengguna.

Temuan itu diduga kuat berkaitan dengan kebocoran API publik Instagram yang terjadi pada akhir 2024, yang saat itu disebut telah diperbaiki oleh Meta. Namun, data yang sudah disalin dan disebarluaskan tampaknya baru dimanfaatkan secara masif belakangan ini.

Baca Juga  Tim Labmino UI Ukir Sejarah, Indonesia Masuk 10 Besar Dunia di Samsung Solve for Tomorrow

Menurut laporan Cybersecuritynews, penjual data dengan nama alias “Subkek” mengklaim bahwa data tersebut diperoleh dari proses scraping API Instagram serta sumber spesifik dari beberapa negara. Dalam unggahan di forum bawah tanah, “Subkek” juga menampilkan sampel data valid yang memuat kombinasi informasi pribadi dan akun bisnis — memperkuat dugaan bahwa data tersebut benar-benar berasal dari sistem Instagram.

Pengguna Indonesia Ikut Terimbas: Reset Password Massal

Gelombang notifikasi perubahan kata sandi dilaporkan terjadi sejak awal Januari 2026. Beberapa pengguna di Indonesia mengaku menerima email resmi dari Instagram yang meminta mereka segera mengganti kata sandi karena adanya “aktivitas mencurigakan”.

Salah satu pengguna, Anggri (34), mengungkap bahwa dirinya telah dua kali menerima email serupa — pada tanggal 6 dan 10 Januari. “Awalnya saya kira hanya bug atau spam, tapi setelah teman-teman saya juga mengalami hal yang sama, saya mulai khawatir,” ujarnya kepada wartawan.

Baca Juga  Ekspansi PLTU Captive Melaju Pesat, Hilirisasi Ubah Arah Sistem Kelistrikan Nasional

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *