Menurutnya, meskipun akses bagi chatbot AI pesaing dibuka, Meta tetap menerapkan sistem biaya yang dinilai memberatkan bagi pengembang teknologi AI lainnya.
“Apa yang Meta sajikan sebagai kepatuhan dengan itikad baik sebenarnya adalah kebalikannya,” kata Marvin von Hagen.
Ia juga menilai bahwa kebijakan baru tersebut hanya menggantikan satu bentuk pembatasan dengan pembatasan lainnya.
“Perusahaan tersebut sekarang memperkenalkan penetapan harga yang menyulitkan bagi penyedia AI yang membuatnya sama mustahilnya untuk beroperasi di WhatsApp seperti halnya larangan total,” ujarnya.
Menurut von Hagen, solusi yang diterapkan Meta di Italia juga tidak benar-benar menyelesaikan masalah persaingan.
“Apa yang disebut solusi Italia bukanlah solusi sama sekali. Itu hanya mengganti satu pembatasan anti-persaingan dengan yang lain,” tambahnya.
Alasan Meta Membatasi Akses Sebelumnya
Meta sebelumnya menjelaskan bahwa meningkatnya penggunaan chatbot AI di platformnya berpotensi memberikan beban tambahan terhadap infrastruktur sistem perusahaan.
Perusahaan juga menyatakan bahwa penyedia layanan AI sebenarnya masih memiliki banyak saluran lain untuk menjangkau pengguna, seperti:
- toko aplikasi
- mesin pencari
- layanan email
- integrasi kemitraan
- sistem operasi perangkat
Dengan demikian, menurut Meta, pembatasan akses chatbot AI di WhatsApp bukanlah satu-satunya hambatan bagi pengembang AI untuk menjangkau pengguna.
Namun regulator tetap menilai bahwa WhatsApp sebagai platform pesan instan global memiliki posisi strategis yang dapat memengaruhi persaingan di sektor teknologi AI.
Dampak Kebijakan Terhadap Ekosistem AI
WhatsApp Jadi Arena Persaingan Baru AI
Perubahan kebijakan ini menunjukkan bahwa WhatsApp kini semakin menjadi bagian penting dalam persaingan teknologi kecerdasan buatan.
Dengan jumlah pengguna yang sangat besar di seluruh dunia, platform pesan instan seperti WhatsApp berpotensi menjadi saluran distribusi penting bagi berbagai layanan AI.
Integrasi chatbot AI di dalam aplikasi pesan memungkinkan pengguna mengakses layanan kecerdasan buatan secara langsung dalam percakapan sehari-hari.
Hal ini menjadikan WhatsApp sebagai salah satu platform strategis bagi perusahaan teknologi yang ingin memperluas penggunaan teknologi AI.
Kasus Serupa Terjadi di Brasil
Selain di Uni Eropa dan Italia, kasus serupa juga terjadi di Brasil. Meta menyatakan bahwa perubahan kebijakan yang sama akan diterapkan di negara tersebut.
Langkah ini dilakukan setelah pengadilan Brasil mengembalikan perintah dari otoritas anti-monopoli yang sebelumnya sempat ditangguhkan oleh pengadilan lain pada Januari 2026.
Kasus di Brasil memiliki pola yang hampir sama dengan yang terjadi di Uni Eropa dan Italia, yaitu terkait dugaan pembatasan akses bagi layanan AI pesaing dalam ekosistem WhatsApp.
Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.