Berita  

Tren Keamanan Siber 2026: Tata Kelola AI hingga Ancaman Baru Agen Otonom

Tren keamanan siber 2026 diprediksi dipengaruhi adopsi AI, gejolak regulasi global, dan ancaman baru agen AI otonom menurut laporan Gartner.

Tren keamanan siber 2026 diprediksi akan mengalami perubahan besar seiring pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI)
Tren keamanan siber 2026 diprediksi akan mengalami perubahan besar seiring pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI)

Serangan “ambil sekarang, dekripsi nanti” menjadi kekhawatiran utama, di mana pelaku kejahatan menyimpan data terenkripsi saat ini untuk didekripsi di masa depan menggunakan teknologi kuantum.

Investasi Dini untuk Ketangkasan Kriptografi

Menurut Michaels, organisasi harus mengidentifikasi dan mengganti metode enkripsi lama secara bertahap sambil memprioritaskan ketangkasan kriptografi. Langkah ini dinilai krusial untuk melindungi data sensitif jangka panjang dari risiko hukum dan finansial.

Manajemen Identitas dan Akses Hadapi Tantangan Agen AI

IAM Tradisional Tak Lagi Cukup

Munculnya agen AI menghadirkan tantangan besar bagi sistem manajemen identitas dan akses (IAM) tradisional. Isu seperti pendaftaran identitas mesin, otomatisasi kredensial, dan otorisasi berbasis kebijakan menjadi semakin kompleks.

Baca Juga  Era Modern: Kronologi Teknologi 2010-Sekarang, AI, Big Data, dan 5G

Tanpa penyesuaian strategi IAM, risiko insiden keamanan akibat penyalahgunaan akses diperkirakan akan meningkat seiring meluasnya penggunaan agen otonom.

Pendekatan Berbasis Risiko Jadi Solusi

Gartner menganjurkan organisasi untuk mengadopsi pendekatan berbasis risiko dengan fokus pada area yang memiliki kesenjangan terbesar. Pemanfaatan otomatisasi juga dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara inovasi dan keamanan.

SOC Berbasis AI Mengubah Pola Operasional Keamanan

Efisiensi Tinggi, Tekanan SDM Meningkat

Pusat operasi keamanan atau Security Operations Center (SOC) berbasis AI mulai mengganggu norma operasional lama. Teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi triase peringatan dan investigasi insiden, namun juga menambah tekanan pada tenaga kerja keamanan.

Kebutuhan peningkatan keterampilan dan penyesuaian struktur biaya menjadi tantangan baru yang harus dihadapi organisasi.

Baca Juga  Oppo A6 Pro 5G: Ponsel Tangguh dengan Sertifikasi Lengkap untuk Aktivitas Ekstrem

Faktor Manusia Tetap Krusial

Michaels menegaskan bahwa keberhasilan SOC berbasis AI tidak hanya bergantung pada teknologi. Penguatan kapasitas SDM, penerapan kerangka kerja human-in-the-loop, dan penyelarasan dengan tujuan strategis organisasi menjadi faktor penentu ketahanan jangka panjang.

GenAI Mengubah Strategi Kesadaran Keamanan Siber

Survei Ungkap Risiko Penggunaan GenAI Pribadi

Gartner menemukan bahwa pendekatan pelatihan kesadaran keamanan tradisional semakin tidak efektif di era GenAI. Survei terhadap 175 karyawan menunjukkan lebih dari 57 persen menggunakan akun GenAI pribadi untuk pekerjaan, dan 33 persen mengaku memasukkan informasi sensitif ke alat yang tidak disetujui.

Pelatihan Adaptif Jadi Kebutuhan Mendesak

Sebagai solusi, Gartner merekomendasikan pergeseran menuju program pelatihan adaptif yang berfokus pada perilaku dan tugas spesifik terkait AI. Penguatan tata kelola dan kebijakan penggunaan GenAI dinilai penting untuk mencegah kebocoran data dan kehilangan kekayaan intelektual.

Baca Juga  Prediksi Bitcoin 2026: Fakta Mengejutkan yang Wajib Diwaspadai Investor

Kesimpulan: Tren Keamanan Siber 2026 Menuntut Pendekatan Baru

Tren keamanan siber 2026 menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi organisasi semakin multidimensi. Adopsi AI yang masif harus diimbangi dengan tata kelola yang matang, kesiapan regulasi, dan peningkatan kapasitas SDM. Tanpa pendekatan yang menyeluruh, risiko keamanan berpotensi menghambat inovasi dan merugikan bisnis dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *