Meskipun domainnya berbeda-beda, struktur dan alur serangan tetap konsisten karena dikendalikan dari satu server pusat.
Desain Antarmuka Sangat Meyakinkan
Tampilan halaman phishing dibuat semirip mungkin dengan branding Telegram, mulai dari warna, logo, hingga tata letak. Hal ini membuat pengguna sulit membedakan antara halaman resmi dan palsu, terutama jika diakses melalui perangkat seluler.
API Lintas Domain dan Infrastruktur Serangan Canggih
Penyalahgunaan API untuk Menghindari Deteksi
Alih-alih menyematkan seluruh logika phishing langsung ke halaman web, situs berbahaya ini menggunakan panggilan API lintas domain untuk mengambil instruksi dari server pusat. Teknik ini memungkinkan:
- Rotasi domain secara cepat
- Perubahan skema serangan tanpa mengubah tampilan
- Penghindaran sistem deteksi otomatis
Pendekatan ini menunjukkan tingkat kematangan teknis yang tinggi dari para pelaku kejahatan siber.
Temuan Analis Keamanan CYFIRMA
Analis keamanan dari CYFIRMA mengungkapkan bahwa permintaan otorisasi dalam serangan ini sengaja dibingkai sebagai pemeriksaan keamanan rutin. Dengan cara tersebut, pengguna cenderung tidak curiga dan lebih cepat menyetujui permintaan login.
Pesan Sistem Menyesatkan yang Menjebak Korban
Manipulasi Psikologis Pengguna
Halaman phishing sering menampilkan pesan seperti “Verifikasi akun Anda” atau “Aktivitas mencurigakan terdeteksi”. Pesan ini mendorong korban untuk segera mengklik tombol “Ya” pada notifikasi Telegram.
Karena konfirmasi dilakukan langsung di aplikasi Telegram, proses tersebut tampak sepenuhnya sah di mata pengguna.
Ilusi Keamanan dari Aplikasi Resmi
Pengalihan tindakan penting ke antarmuka Telegram yang dikenal menciptakan ilusi keamanan. Padahal, di balik layar, pengguna sedang mengikat sesi akun mereka ke perangkat milik penyerang.
Siapa yang Menjadi Target dan Kapan Serangan Terjadi?
Target Utama Pengguna Aktif Telegram
Target serangan ini mencakup:
- Pengguna Telegram aktif
- Administrator grup dan kanal besar
- Jurnalis, aktivis, dan tokoh publik
- Pengguna yang jarang memeriksa pengaturan keamanan
Lonjakan serangan dilaporkan meningkat dalam beberapa bulan terakhir, seiring dengan meningkatnya penggunaan Telegram sebagai platform komunikasi utama.
Langkah Pencegahan Menghindari Phishing Telegram
Jangan Menyetujui Permintaan Login Asing
Pengguna disarankan tidak pernah menyetujui permintaan login jika tidak merasa memulainya sendiri. Setiap notifikasi login harus diperlakukan dengan penuh kewaspadaan.
Hindari Kode QR dari Sumber Tidak Dikenal
Kode QR login Telegram hanya boleh dipindai dari situs resmi Telegram. Pemindaian dari sumber lain sangat berisiko.
Periksa Sesi Aktif Secara Berkala
Pengguna dapat memeriksa perangkat yang terhubung melalui menu Pengaturan > Perangkat. Jika ditemukan sesi mencurigakan, segera keluarkan akses tersebut.
Aktifkan Verifikasi Dua Langkah
Fitur Verifikasi Dua Langkah menambahkan kata sandi sekunder yang wajib dimasukkan saat login baru. Langkah ini sangat efektif untuk mencegah akses tidak sah meskipun permintaan login disetujui secara tidak sengaja.
Kesimpulan: Waspada Jadi Kunci Melawan Phishing Telegram
Serangan phishing Telegram dengan teknik pembajakan otentikasi resmi menunjukkan bahwa kejahatan siber terus berevolusi mengikuti sistem keamanan terbaru. Dengan memanfaatkan kepercayaan pengguna terhadap aplikasi resmi, pelaku berhasil mengecoh banyak korban tanpa meninggalkan jejak mencurigakan.
Kesadaran, edukasi, dan penerapan fitur keamanan tambahan menjadi kunci utama untuk melindungi akun dari ancaman ini. Di era komunikasi digital yang semakin kompleks, kewaspadaan pengguna menjadi benteng pertahanan terakhir terhadap serangan phishing yang kian canggih.







