Karakteristik itulah yang menjadikan 700 MHz sebagai tulang punggung ekspansi internet ke wilayah terpencil. Sinyal frekuensi rendah mampu menjangkau area yang selama ini sulit dilayani oleh spektrum yang lebih tinggi, baik di lingkungan indoor maupun outdoor di kawasan pedesaan dan perbatasan.
Sementara itu, pita 2,6 GHz memainkan peran yang berbeda namun sama pentingnya. Frekuensi ini tidak diunggulkan untuk jangkauan, melainkan untuk kapasitas dan kecepatan transmisi data. Spektrum di kisaran ini menjadi fondasi krusial bagi implementasi teknologi 5G, terutama di kawasan perkotaan dengan kepadatan trafik data yang tinggi.
Target yang Sejalan dengan RPJMN 2025–2029
Seleksi frekuensi ini bukan inisiatif yang berdiri sendiri. Kebijakan tersebut merupakan bagian integral dari target yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 serta Rencana Strategis Kemkomdigi 2025–2029.
Dua target utama menjadi acuan. Pertama, perluasan cakupan layanan 4G secara merata hingga ke seluruh desa dan kelurahan di Indonesia — sebuah pekerjaan rumah besar yang selama ini terhambat oleh keterbatasan spektrum dan infrastruktur di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Kedua, percepatan pengembangan jaringan 5G di berbagai wilayah yang membutuhkan kapasitas data lebih besar untuk mendukung ekosistem ekonomi digital.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.







