Hasil penting dari era ini meliputi:
- LISP, bahasa pemrograman yang dirancang khusus untuk AI
- Semantic Network dan Frame, metode representasi pengetahuan
- Expert System dan General Problem Solver, program awal pemecahan masalah kompleks
Era ini ditandai oleh optimisme tinggi, meski keterbatasan komputasi dan data kemudian memperlambat laju perkembangan.
Gelombang Kedua AI: Mesin Mulai Belajar dari Data (1980-an)
Tahun 1980-an menandai gelombang kedua AI, ketika fokus beralih dari simbol dan aturan ke data dan probabilitas.
Tokoh-tokoh seperti David Rumelhart memperkenalkan Multi-Layer Perceptron (MLP), cikal bakal jaringan saraf modern. Lotfi Zadeh mengembangkan Logika Fuzzy, memungkinkan mesin bernalar dalam kondisi tidak pasti—lebih mendekati cara manusia berpikir.
Selain itu, lahir pula berbagai algoritma evolusioner seperti Genetic Algorithm dan Genetic Programming, yang terinspirasi dari mekanisme seleksi alam. Pendekatan ini memperluas cara mesin belajar dan beradaptasi.
Gelombang Ketiga AI: Internet, Big Data, dan Deep Learning (2000-an)
Memasuki abad ke-21, AI mendapatkan “bahan bakar” terbesarnya: data masif dan konektivitas global. Internet, World Wide Web, IoT, dan komputasi awan menciptakan lingkungan ideal bagi pembelajaran mesin.
Puncaknya terjadi pada 2006, ketika Geoffrey Hinton memperkenalkan kembali konsep Deep Learning. Sejak saat itu, AI mengalami lonjakan kemampuan dalam pengenalan gambar, suara, dan bahasa alami—fondasi dari teknologi AI modern yang kita gunakan sehari-hari.
Kerangka Evolusi AI Menurut Dr. Lukas
Dr. Lukas merangkum sejarah AI ke dalam empat tahap utama:
- Tahap Teoretis: Fondasi logika dan matematika
- Gelombang Pertama: Representasi pengetahuan
- Gelombang Kedua: Pembelajaran berbasis data
- Gelombang Ketiga: Big Data dan Deep Learning
Kerangka ini membantu memahami AI sebagai proses evolutif, bukan lompatan instan.
Kesimpulan: AI sebagai Cerminan Ambisi Manusia
Sejarah kecerdasan buatan adalah cerminan dari ambisi manusia untuk memahami dan mereplikasi kecerdasannya sendiri. Dari aljabar Boolean hingga deep learning, AI terus berkembang sebagai kekuatan sentral dalam teknologi global.







