Sejarah Mendalam Kecerdasan Buatan (AI) dari Filsafat ke Era Deep Learning

Sejarah Mendalam Kecerdasan Buatan (AI) dari Filsafat ke Era Deep Learning
Sejarah Mendalam Kecerdasan Buatan (AI) dari Filsafat ke Era Deep Learning

AI Bukan Fenomena Baru: Akar Panjang Kecerdasan Buatan

Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) kerap dianggap sebagai produk era modern—identik dengan chatbot, mobil otonom, atau sistem rekomendasi canggih. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, AI bukanlah konsep yang lahir tiba-tiba. Istilah “Artificial Intelligence” memang pertama kali diperkenalkan secara resmi pada Konferensi Dartmouth tahun 1956, tetapi fondasi pemikirannya telah dibangun jauh sebelumnya, bahkan sebelum komputer digital diciptakan.

Perjalanan AI adalah kisah panjang lintas disiplin: filsafat, logika, matematika, hingga ilmu komputer. Ini adalah upaya manusia untuk mentransfer kemampuan berpikir, bernalar, dan belajar ke dalam mesin—sebuah ambisi intelektual yang terus berevolusi hingga hari ini.

Baca Juga  Belkin ConnectAir Hadirkan Solusi HDMI Nirkabel Praktis Tanpa Internet

Menurut Dr. Lukas, Dosen BINUS University sekaligus Ketua Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS), sejarah AI tidak dapat dipahami hanya sebagai kemajuan teknologi, melainkan sebagai perkembangan pemikiran manusia dalam merepresentasikan kecerdasan secara sistematis.

Benih Awal AI: Fondasi Logika dan Matematika (Pra-1950)

Jauh sebelum istilah AI dikenal, para pemikir telah merumuskan dasar-dasar logika yang kelak menjadi “bahasa” mesin.

Pada awal abad ke-20, George Boole memperkenalkan Aljabar Boolean, sistem logika berbasis nilai benar dan salah (true/false) yang kini direpresentasikan sebagai 0 dan 1 dalam sistem biner. Tanpa konsep ini, komputer modern tidak akan pernah ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *