Kamera Ultra-Wide: Keseimbangan yang Relatif Setara
Pada kamera sudut lebar, Samsung Galaxy S26 Ultra menggunakan sensor Samsung JN3 beresolusi 50 MP dengan aperture F1.9, ukuran sensor 1/2.5 inci, dan ukuran piksel 0,7 μm. Xiaomi 17 Ultra juga menyertakan kamera ultra-wide 50 MP namun dengan aperture F2.2 yang sedikit lebih sempit, panjang fokus 14 mm yang lebih lebar, dan ukuran sensor 1/2.76 inci. Pada segmen ini, keunggulan ada di tangan Samsung dari sisi aperture, sementara Xiaomi menawarkan sudut pandang yang lebih luas.
Kamera Telefoto: Di Sinilah Perbedaan Paling Dramatis Terletak
Sistem telefoto menjadi titik diferensiasi yang paling signifikan antara kedua perangkat ini. Samsung Galaxy S26 Ultra mengadopsi sistem telefoto ganda: pertama, kamera telefoto 10 MP menggunakan sensor Sony IMX754 dengan zoom optik 3x dan aperture F2.4; kedua, kamera telefoto periskop 50 MP menggunakan sensor Sony IMX854 dengan zoom optik 5x, aperture F2.9, dan panjang fokus 115 mm pada sensor 1/2.52 inci.
Xiaomi 17 Ultra memilih pendekatan berbeda dengan satu kamera telefoto periskop beresolusi sangat tinggi, yaitu 200 MP, dengan zoom optik 4,2x pada panjang fokus 100 mm. Ukuran sensornya mencapai 1/1.4 inci, yang berarti sensor telefoto Xiaomi ini hampir sebesar sensor kamera utama milik Samsung Galaxy S26 Ultra. Namun Samsung memberikan fleksibilitas yang lebih besar melalui dua titik zoom optik yang berbeda, memungkinkan pengguna beralih antara 3x dan 5x dengan hasil yang secara teori optimal pada masing-masing jarak.
Kamera Depan: Perbedaan yang Signifikan
Xiaomi 17 Ultra menghadirkan kamera selfie 50 MP di bagian depan, sementara Samsung Galaxy S26 Ultra hanya menyertakan kamera depan 12 MP dengan dukungan PDAF dan HDR. Untuk penggunaan foto selfie dan video call resolusi tinggi, Xiaomi unggul cukup jauh pada aspek ini.
Di Mana dan Bagaimana Pengujian Dilakukan
Pengujian komparatif ini dilakukan di berbagai lokasi dan kondisi pencahayaan untuk memastikan bahwa hasilnya mencerminkan performa sesungguhnya dalam skenario yang relevan bagi pengguna sehari-hari. Kondisi yang diuji mencakup gang dengan pencahayaan sangat minim sebagai representasi situasi malam hari yang menantang, taman terbuka di bawah cahaya matahari langsung yang menguji kemampuan dynamic range dan reproduksi warna, serta lingkungan kantor dengan pencahayaan buatan yang mewakili kondisi penggunaan dalam ruangan yang paling sering ditemui pengguna.
Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.