Pengadilan di Moskow sebelumnya telah menjatuhkan denda kepada Telegram karena menolak menghapus konten yang dikategorikan sebagai “konten terlarang” dan tidak memenuhi kewajiban sebagai operator media sosial.
Meskipun YouTube belum secara resmi dinyatakan sebagai “organisasi yang tidak diinginkan”, otoritas Rusia berulang kali menuduh platform tersebut menyebarkan konten yang melanggar hukum nasional.
Strategi Penguatan Kedaulatan Internet
Kebijakan Rusia blokir YouTube dan WhatsApp juga dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang membangun internet yang terpisah dari infrastruktur global.
Undang-Undang Kedaulatan Internet memungkinkan Rusia untuk:
- Mengontrol lalu lintas internet domestik
- Mengisolasi jaringan nasional jika diperlukan
- Memusatkan sistem DNS melalui NDNS
- Menggunakan teknologi penyaringan data lanjutan
Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat kedaulatan digital, namun juga memicu kritik terkait pembatasan kebebasan berekspresi.
Bagaimana Teknologi Deep Packet Inspection Digunakan?
Penyaringan dan Perlambatan Lalu Lintas Data
Sebelum penghapusan domain dari NDNS, Roskomnadzor lebih banyak mengandalkan teknologi Deep Packet Inspection (DPI). Teknologi ini memungkinkan analisis dan penyaringan lalu lintas data secara mendetail.
Melalui DPI, regulator dapat memperlambat akses ke platform tertentu tanpa memblokirnya sepenuhnya. Dalam praktiknya, video YouTube sering kali dimuat sangat lambat atau bahkan tidak dapat diputar.
Dengan metode ini, akses tidak sepenuhnya ditutup, tetapi fungsi layanan menjadi terganggu.
Keterbatasan DPI dan Peralihan Strategi
Pakar telekomunikasi independen Alexey Uchakin menyebutkan bahwa kemampuan memperlambat lalu lintas data memiliki batas teknis. Oleh karena itu, regulator diduga memilih langkah lebih tegas dengan menghapus domain dari NDNS agar kontrol lebih efektif dan sumber daya dapat dialihkan untuk membatasi Telegram.
Dampak terhadap Pengguna Internet Rusia
Survei Penggunaan VPN
Survei anonim menunjukkan bahwa:
- 46% responden mengakses YouTube menggunakan VPN
- 24% tetap mengalami gangguan meski menggunakan VPN
- 27% tidak tinggal di Rusia
- 3% tidak menggunakan VPN dan mengalami gangguan akses
Data ini menunjukkan bahwa VPN menjadi alat utama untuk melewati pemblokiran. Namun efektivitasnya tidak selalu konsisten.
Keluhan Pengguna
Banyak pengguna mengeluhkan kualitas akses internet yang memburuk. Sejumlah komentar di kanal YouTube DW menyebut koneksi menjadi lambat dan tidak stabil, bahkan ketika VPN aktif.
Sebagian pengguna mengaku tidak pernah mematikan VPN karena tanpa VPN hampir tidak ada situs internasional yang dapat dibuka.
Di media sosial Rusia, berbagai panduan teknis untuk mengatasi pemblokiran beredar luas. Namun sebagian pengguna khawatir pemerintah mampu mendeteksi metode bypass tersebut.
Risiko Penggunaan VPN dan Ancaman Keamanan
Batas Perlindungan VPN
Michael Klimarev menegaskan bahwa VPN dan DNS pihak ketiga tidak memberikan perlindungan penuh. Penyedia layanan internet masih dapat memblokir DNS alternatif.







