Hadi menjelaskan bahwa kehadiran PSEL tidak hanya berfungsi mengurangi timbunan sampah, tetapi juga akan memperkuat sistem energi nasional melalui diversifikasi sumber daya.
“Dengan PSEL, kita tidak hanya mengelola sampah, tapi juga memproduksi listrik dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil seperti batubara,” ujarnya.
Proyek Strategis dengan Nilai Investasi Besar
Didukung Dana Kekayaan Negara dan Investor Hilir
PSEL termasuk dalam daftar 18 proyek hilirisasi strategis nasional yang dijadwalkan mulai konstruksi antara Januari hingga Maret 2026. Semua proyek ini telah melalui studi pra-kelayakan dan diperkirakan menelan investasi total sebesar Rp600 triliun, dengan koordinasi dan pendanaan utama dilakukan oleh Dana Kekayaan Negara Danantara Indonesia.
Pemerintah menargetkan agar seluruh proyek hilirisasi tersebut dapat beroperasi penuh sebelum tahun 2030, sekaligus menjadi fondasi untuk mencapai target emisi nol bersih (net-zero emission) di tahun 2060.
Selain mendukung ketahanan energi, proyek ini juga diharapkan menciptakan ribuan lapangan kerja baru, memperkuat rantai pasok energi daerah, serta meningkatkan kesadaran publik terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Proyek ini adalah contoh nyata hilirisasi yang berorientasi pada lingkungan. Kita ubah beban menjadi kekuatan ekonomi baru,” tambah Hadi.
Teknologi PSEL dan Keunggulannya
Teknologi yang digunakan dalam sistem Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) akan berfokus pada pemrosesan limbah padat melalui konversi energi termal. Proses ini mampu menghasilkan listrik dan panas dari sampah organik maupun anorganik yang tidak dapat didaur ulang.
Selain menghasilkan energi, teknologi ini juga mampu menurunkan volume sampah hingga 90%, mengurangi kebutuhan lahan untuk tempat pembuangan akhir (TPA), dan menekan emisi gas rumah kaca.








Responses (2)