Namun seperti banyak inovasi lain, keunggulan teknis seringkali datang dengan kompromi yang sulit diabaikan.
Kompromi Desain dan Biaya Produksi
Ukuran besar sensor 1 inci membawa tantangan tersendiri bagi desain ponsel modern. Modul kamera yang menampung sensor tersebut harus lebih tebal, membuat bagian belakang ponsel menonjol dan terasa berat di tangan. Sementara itu, tren desain ponsel sejak 2025 kembali bergerak ke arah bodi ultra-slim dan ergonomis. Inilah salah satu alasan utama mengapa banyak produsen enggan mempertahankan sensor besar.
Selain itu, sensor 1 inci memerlukan jarak optik tertentu antara lensa dan sensor untuk menghasilkan gambar tajam. Hal ini menambah kompleksitas desain, terutama ketika produsen ingin menambah fitur seperti aperture variabel atau sistem lensa bergerak. Semua faktor tersebut meningkatkan biaya produksi dan menekan margin keuntungan.
Dari sisi ekonomi, strategi mempertahankan sensor besar di setiap model flagship dianggap tidak efisien. Sebaliknya, banyak produsen memilih untuk mengalokasikan sumber daya ke teknologi lain seperti kamera telefoto periskop, zoom optik canggih, atau AI-powered image processing—fitur yang dinilai lebih menarik bagi pengguna umum.
Evolusi Teknologi: Sensor Lebih Kecil, Performa Lebih Canggih
Ironisnya, di saat sensor 1 inci mulai ditinggalkan, kemajuan teknologi justru membuat sensor yang lebih kecil tampil lebih kompetitif. Sebagai contoh, sensor LYT-818 berukuran 1/1,28 inci milik Vivo mampu menghasilkan kualitas foto setara sensor 1 inci generasi awal, sekaligus menawarkan kemampuan video yang lebih stabil dan efisien.
Sensor terbaru seperti LYT-828 dan LYT-901 juga membawa peningkatan signifikan. Keduanya mendukung teknologi HDR canggih, ultra-high conversion gain, dan pemrosesan multi-frame real-time. Semua keunggulan ini membuat hasil foto tetap berkualitas tinggi meski sensor lebih kecil.








Responses (2)