Para arkeolog menegaskan bahwa membaca relief Kuil Dendera sebagai skema teknis sama kelirunya dengan membaca lukisan gereja abad pertengahan sebagai manual sains modern.
Bahaya Interpretasi Visual yang Menyesatkan
Akar utama teori “Bola Lampu Dendera” terletak pada pendekatan yang dikenal sebagai interpretasi ‘sepertinya’—yaitu menilai artefak kuno berdasarkan kemiripan visual semata dengan teknologi masa kini.
Dalam metodologi ilmiah, pendekatan ini dianggap bermasalah karena mengabaikan konteks sejarah, teks pendamping, dan tradisi simbolik. Kemiripan bentuk tidak otomatis berarti kesamaan fungsi, terlebih ketika dua peradaban dipisahkan oleh ribuan tahun perkembangan ilmu pengetahuan.
Membongkar Tiga Kesalahpahaman Utama
1. Klaim Ketiadaan Jelaga sebagai Bukti Listrik
Pendukung teori ini sering berargumen bahwa tidak ditemukannya jelaga di langit-langit kuil membuktikan penggunaan lampu listrik yang bersih.
Namun menurut pakar arkeologi, ketiadaan jelaga bukanlah bukti teknologi listrik. Beberapa kemungkinan yang masuk akal justru lebih sederhana: penggunaan lampu minyak dengan sumbu khusus, sistem ventilasi alami, atau praktik pembersihan rutin oleh pendeta kuil selama ratusan tahun.
Tidak satu pun temuan arkeologis lain—seperti kabel, logam konduktor, atau sumber energi—yang mendukung klaim listrik.
2. Mitos Pengetahuan Teknologi Rahasia Para Pendeta
Teori lain menyebut para pendeta Dendera memiliki pengetahuan teknologi canggih yang dirahasiakan dari masyarakat umum.







