Menurut pengamat media, fase ini penting karena untuk pertama kalinya konsumen memiliki kontrol atas waktu konsumsi hiburan. Konsep inilah yang kelak menjadi fondasi layanan on-demand modern.
Fase Kedua: Transisi Digital dan Era Pembajakan (Akhir 1990-an–Awal 2000-an)
MP3, DVD, dan Guncangan Model Bisnis Lama
Masuknya teknologi digital membawa perubahan radikal. Format MP3 memungkinkan file audio dikompresi tanpa penurunan kualitas signifikan. Internet yang semakin cepat memicu lahirnya platform berbagi file seperti Napster. Meski ilegal, Napster menjadi bukti nyata bahwa publik menginginkan akses musik yang instan dan mudah.
Di industri film, DVD menggantikan VCD dan kaset video dengan kualitas gambar lebih baik dan fitur interaktif. Namun, kemunculan software ripping dan file sharing membuat industri film menghadapi ancaman serius dari pembajakan digital.
iPod dan Revolusi Mobilitas
Tahun 2001 menjadi momen penting dengan hadirnya iPod. Perangkat ini mengubah cara orang menikmati musik—ribuan lagu dalam satu genggaman. Para analis menyebut iPod sebagai jembatan antara kepemilikan fisik dan konsumsi digital berbasis gaya hidup mobile.
Dampaknya jelas: industri media dipaksa beralih dari menjual produk menjadi menyediakan layanan.
Fase Ketiga: Era Streaming dan Konten On-Demand (2010-an–Sekarang)
Netflix, Spotify, dan Dominasi Akses
Didukung jaringan 4G yang stabil dan smartphone berlayar besar, era streaming pun meledak. Netflix bertransformasi dari layanan penyewaan DVD menjadi raksasa streaming global. Kunci keberhasilannya terletak pada algoritma rekomendasi yang mendorong personalisasi ekstrem.







