IBM memilih arsitektur Intel 8088 dan sistem operasi dari perusahaan rintisan bernama Microsoft (MS-DOS). Keputusan strategis IBM untuk menggunakan komponen off-the-shelf dan membuka peluang kloning perangkat keras justru menciptakan ekosistem pasar yang luas.
Dampaknya sangat besar:
- Arsitektur x86 menjadi standar global
- Lahirnya ekosistem IBM-compatible
- Dominasi Microsoft di sisi perangkat lunak mulai terbentuk
1984: Revolusi Antarmuka Grafis
Sementara IBM fokus pada standar industri, Apple mengambil jalur berbeda. Pada 1984, Apple merilis Macintosh, komputer yang memperkenalkan Graphical User Interface (GUI)—ikon, jendela, dan mouse—berbasis riset Xerox PARC.
Meski mahal dan tidak langsung menguasai pasar, Macintosh membuktikan bahwa komputasi tidak harus rumit. Pengguna tidak perlu menghafal perintah teks.
Analisis Ahli (Authoritativeness):
Macintosh menandai kemenangan pengalaman pengguna (user experience/UX) dan menjadi referensi utama bagi perkembangan sistem operasi modern.
Fase Ketiga (1985–1990): Multitasking dan Transisi dari DOS
Microsoft Windows dan Awal Era Visual
Menanggapi langkah Apple, Microsoft meluncurkan Windows 1.0 pada 1985. Sistem ini bukan OS mandiri, melainkan lapisan grafis di atas DOS. Meski terbatas, Windows memperkenalkan konsep multitasking dasar dan penggunaan mouse secara luas.







